Apalah Arti Sebuah Nama!

Nama saya Adriana, yaaa… bukan hampir sama lagi sama nama model terkenal Adriana Lima, tapi sama persis. Hanya beda nama belakangnya aja. Well, nama boleh sama ya tapi nasib dan takdir berbeda hehehe…

Tidak jarang orang yang membaca nama saya yang belakanganya ditambahkan nama bapak saya Ali, menganggap saya adalah seorang laki-laki. Bahkan waktu jaman kuliah sekalipun, dosen saya mengira makalah yang dia baca adalah makalah yang dibuat oleh seorang laki-laki. Apalagi bagi suku Sunda, Adriana memang cenderung diperuntukkan bagi kaum pria. hihiihih..

Sebenarnya bukan itu inti dari tulisan ini. Yang ingin saya sampaikan disini adalah, bagaimana merepotkannya memiliki nama dengan hanya terdiri dari dua suku kata. *fiuh*

Karna akan berangkat ke Jepang bulan Februari mendatang dan sekaligus ingin umroh sebulan setelahnya, maka saya dan suami membuat passpor terlebih dahulu sebagai syarat untuk bisa melenggang cantik ke luar negeri. Proses pembuatan passpor berjalan lancar, bahkan kami jadi tamu paling istimewa di kantor imigrasi Depok waktu itu. Pengisian formulir kami lakukan di ruang terpisah, tanpa mengantri dan diberi minuman.

Nah, lalu drama dimulai. Karna saya orangnya tidak bisa sabar, saya membeli tiket ke Jepang dengan modal nomor passpor yang dikirim oleh pejabat imigrasi [sahabat pak Suami] tanpa melihat dan mengecek dengan pasti nama yang mana yang harusnya saya cantumkan di nama penumpang. Saya meng-issued tiket penerbangan Cathya Pasific PP Jakarta – Osaka pada saat itu juga. Lancar! Ticket Issued. Harganya? Jangan ditanya, karna kita memang sudah kehabisan tiket promo Air Asia, yang semula masih kurang dari 4 juta untuk tiket PP. Kami memang agak susah mengejar tiket promo, karna kami tidak bisa menentukan jauh-jauh hari, waktu kosong yang mana yang bisa kami pakai untuk berlibur. Jadwal kerja Pak Suami suka kadang-kadang mendadak padat, suka tiba-tiba ada proyek di luar kantor yang sifatnya sangat urgent. Jadi pembelian tiket maksimal bisa kami lakukan sebulan sebelum berangkat, itupun dengan mengatur jadwal Pak Suami sedemikan rupa, menggenjot pekerjaan yang sekiranya tidak akan tersentuh sama sekali selama seminggu kita berlibur.

Beberapa hari setelah ticket kami issued, datanglah kekhawatiran yang membuat saya pada akhirnya menyerah pada keteledoran saya sendiri. Tiket yang telah saya issued dengan menggunakan tiga suku kata, dimana penamaan tiga suku kata ini memang tercantum di halaman 4 bagian endorsement passpor saya, akhirnya harus saya ubah menjadi 2 suku kata sesuai yang tertera di halaman depan passpor. Setelah bertanya ke pihak Traveloka dan berkunjung ke kantor Cathay Pasific di Gedung IDX Sudirman, ternyata saya diharuskan membayar biaya penggantian dokumen senilai idr.715.000.

whatsapp-image-2017-01-17-at-14-31-00
Kantor Cathay Pasific di Gedung IDX Tower 1 Lt. 18 SCBD Sudirman

Kenapa saya harus ganti dokumen? Kalau kata pihak Cathay Pasific-nya, pihak maskapai mungkin tidak akan mempermasalahkan hal tersebut, toh nama di tiket memang tercantum di halaman 4, akan tetapi ini akan menjadi masalah nantinya di pengecekan imigrasi kalau visa yang diterbitkan adalah visa dengan nama yang terdiri dari 2 suku kata. Mengingat kembali insiden-insiden turis Indonesia ke Jepang banyak yang dideportasi langsung bahkan sebelum sempat menginjakkan kaki di luar Airport dan birokrasi di imigrasi bandara Jepang yang katanya memang lumayan ketat, jadilah tidak ada pilihan lain selain harus membayar nilai yang besar tersebut untuk mengganti nama saya di tiket.

passpor
Belum E-Passpor, tapi segini juga udah lumayan

Pelajaran yang sangat berharga yang bisa saya ambil dalam kejadian ini adalah ; bersabar. i’m too excited dan terlalu takut tiket harga tiketnya akan jadi mahal kalau saya tidak membeli pada saat itu juga. huhuhuhu… padahal sampai hari ini pun harga tiketnya masih sama. Daaannn.. besok-besok kalau punya anak, mending dari awal ngasih nama dengan 3 suku kata atau lebih supaya belakangan tidak repot harus mengurus ini itu. hihihihi…

Suami sih tidak marah setelah saya menyampaikan berita dukanya [hahaha ini beneran saya sampai nangis], beliau cuma berpesan : ini pelajaran ya, besok-besok harus lebih sabar dan teliti. Tapi tetep, saya sebagai istri yang hampir tidak pernah kena omelan suami, giliran bikin kesalahan kecil aja bisa jadi drama yang berkepanjangan. Sampai-sampai suami heran kenapa saya harus nangis, padahal beliau sendiri marah juga enggak. hahaaha…

Well, Intinya… besok-besok kalau mau beli tiket international pastikan dulu nama passpor sebelum membeli tiket. Untuk Haji atau Umroh, memang memerlukan nama dengan 3 suku kata, tapi untuk beberapa negara ; nama di tiket harus sama persis dengan nama yang tertera di halaman depan passpor. Cukup saya saja yang mengalami kejadian seperti ini, semoga kalian tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s