My Pregnancy Stories

I am married since 2012 and I was pregnant twice, Alhamdulillah. Tapi dua kehamilan tersebut tidak satupun yang bertahan lebih dari 8 minggu. Kehamilan pertama di awal tahun 2014 yang hanya berusia kurang dari 8 minggu harus saya relakan untuk digugurkan karna letak janinnya berada di tuba fallopi (saluran telur). Kasus seperti ini sering dikenal dengan nama Kehamilan Ektopik atau Kehamilan di luar kandungan. Seperti halnya hamil normal, hasil tespack saya positif, pemeriksaan darah betaHCG saya menunjukkan bahwa saya pun positif hamil, saya juga merasakan mual dan pusing tapi dengan tambahan flek yang saya alami tiap hari sampai pada akhirnya saya divonis hamil di luar kandungan.

Tahun 2014 kemarin saya dan suami masih menetap di Bandung, jadi pengobatan pun kami lakukan semuanya di Bandung dengan beberapa dokter specialis ternama. Salah satunya dr. Hartanto Bayuaji di RSHS. Menurut dr. Tanto ; karna janinnya tidak terlihat oleh USG dan karna usianya masih kurang dari 8 minggu maka treatment yang diberikan hanyalah suntikan MTX sebanyak 3x dengan dosis 0.75cc (if am not mistaken) sambil rutin memeriksakan betaHCG selama penyuntikan.

Konsul dengan dr. Tanto tidak saya tuntaskan, saya mencari second opinion ke dr. Maximus di RS S. Borromeus. Well, i just need to see him once and fortunately everything was going better. Saya masuk ke ruangan dokter waktu itu tanpa rekam medis sama sekali dari RS sebelumnya, tapi dengan selembar kertas yang berisi tulisan saya tentang semua jenis treatment yang saya dapat termasuk jadwal konsul ke beberapa dokter. Yes, all by my self.

Waktu berjalan sangat cepat, saya tidak pernah lagi memikirkan harus program hamil setelah trauma hamil di luar kandungan tersebut. Saya mendaftar kuliah S2 sebulan setelah kejadian yang menyedihkan itu. Paling tidak ketika saya ditanya kenapa belum hamil, saya memiliki alasan untuk sedikit ngeless bahwa saya harus menuntaskan pendidikan saya terlebih dahulu. Atau paling tidak dengan kejadian ini, saya sudah mematahkan pendapat orang lain bahwa saya dan suami tidak bisa memiliki keturunan. Well, it’s only a matter of time!

Tahun 2016, saya akhirnya hamil lagi di tengah-tengah kesibukan saya menuntaskan tugas akhir untuk memperoleh gelar Magister Hukum Kesehatan. Sayangnya, kemalangan yang sama seperti 2 tahun lalu terjadi lagi. Saya hamil di luar kandungan untuk kedua kalinya dan kali ini casenya jauh lebih parah. Akhirnya 19 hari sebelum saya wisuda, saya harus menjalani operasi Laparotomi di RSAB Harapan Kita Jakarta. Sebelum saya diboyong suami ke RS tersebut, malam sebelumnya saya sudah keburu masuk UGD RS. Pondok Indah di Puri Indah. a

Cerita ini sebenarnya sudah hampir satu tahun lamanya, tapi sampai detik ini saya masih trauma untuk hamil lagi karna menurut dr. Ilhami yang menangani saya di RSAB Harapan Kita ; potensi untuk terjadinya hamil di luar kandungan untuk yang pernah mengalami sebelumnya sangatlah besar. Sedih? iya, tapi perasaan horronya itu yang lebih mendominasi. Bekas luka operasi yang meninggalkan bekas keloid di perut saya sebenarnya tidak begitu banyak memepengaruhi kehidupan saya selanjutnya, tapi bayangan kamar operasi yang dingin di malam 8 Agustus 2016 itu yang kadang membuat saya takut untuk memulai hamil lagi. Any suggestion what should i do? hiks.

Saya menulis ini setelah suami terlelap lebih dulu di malam malam terakhir ramadhan. Entah kenapa saya tiba tiba menangis tidak karuan hehhehe… i want a baby and i really feel sorry because i have no ability to give my husband a baby. Saya suka galau sendiri ketika menyaksikan teman teman sebaya saya yang sekarang (mostly) sudah memiliki 3 orang anak huuuhuhuu… belum lagi galau ketika ditanya tanya “kenapa belum hamil?”. it hurts me a lot anyway. You never know what i’ve been through!

And tonight i see so many lives (efek instagram yang jangkauannya sangat luas hahahaha). Saya menyaksikan banyak wanita yang sama sama berjuang seperti saya, banyak wanita yang mengalami kehilangan seperti saya dan ada beberapa keluarga yang harus menerima cobaan dengan dititipkannya anak anak dengan rare disease. Bayi bayi yang harus menjalani operasi sampai 42 kali, bayi yang harus hidup dengan ventilator melekat di tubuhnya dan orang tua yang sangat kuat di samping mereka. Apa yang menimpa saya ternyata belum seberapa dibanding mereka yang sampai detik ini berjuang untuk calon dan anak anak mereka πŸ˜₯

Now I know i’m not alone… Mungkin saya hanya butuh lebih setrong, hanya butuh lebih sabar dan banyak banyak bersyukur serta banyak banyak berdoa semoga Allah memberi kepercayaan kepada saya dan suami suatu saat (yang tepat) nanti untuk dititipi anak anak yang sholeh sholeha. Aamiin Aamiin Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s