Menjelang 10 Tahun pasca tsunami Pangandaran.

Tulisan ini mungkin tulisan yang super duper late post, dikarenakan selama ini saya hanya fokus pada social media bernama Instagram dan Path (yang akhirnya dinonaktifkan) dan saya pun baru memikirkan untuk memulai nulis blog ini di awal tahun 2017 kemarin hahhaa.. telat gaul banget ya saya?

Yak, hari ini terjadi gempa di Lebak Banten dengan magnitudo 5,1 SR dengan kedalaman 42 km yang di waktu yang sama sehari sebelumnya (kemarin) sudah terjadi gempa di lokasi yang sama pula dengan magnitudo yang lebih besar yaitu 6,1 SR di kedalaman 10Km. Gempa kemarin sampai bikin saya yang  sedang tidur di flat kami di lt.12 (aktualnya lantai 14) berlari setengah sadar dengan menggunakan pakaian seadanya meninggalkan gedung lewat tangga darurat. Kebayang kan turun dari lantai 14 menuju lantai 1 lewat tangga? ahahha… hari ini kaki saya baru berasa pegalnya.

Meskipun menurut BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami tapi, bagi saya ; gempa kemarin sudah sangant meninggalkan trauma yang bikin saya hari ini memilih mandi lebih cepat dari biasanya. hahahha… takut dong ada gempa pas lagi bugil di kamar mandi.

Kembali ke Pangandaran, Tsunami Pangandaran yang terjadi pada bulan Juli 2006 silam tidak didahului gempa sama sekali. Jadi hampir tidak ada evakuasi sebelum tsunami ataupun peringatan sama sekali untuk menghindar. Tsunami ini menurut menurut data WHO telah merenggut 668 korban jiwa, 65 hilang dan 9rb lainnya luka-luka.  heum 2006 saya ada dimana ya? 2006 saya sibuk ngurusin pacar kayaknya hahhaa…

Jadi, kenapa nulis tentang Pangandaran hari ini, karna yaa itu… gara gara gempa yang bikin saya takut tidur siang, takut di kamar sendirian dan berakhir saya duduk di depan kolam renang sambil bawa laptop, ubek ubek album foto dan berusaha merangkai kata supaya enak dibaca (meskipun sebenarnya ga ada enak-enaknya ya?)

 

IMG_0704

 

Menjelang akhir tahun 2015, saya punya kesempatan berkunjung ke Pangandaran (yeay akhirnya). Kebetulan teman kuliah saya ada yang orang Pangandaran asli, yang tiap weekend berangkat ke Bandung cuma buat kuliah doang. Kali ini semua akomodasi bisa dihitung gratisan hahaha, maklum saya mahasiswi kere yang doyan banget jalan jalan dan foto-foto. Berangkat ke Pangandaran numpang mobil teman, nginap di rumah teman juga yang jarak dari rumah ke pantai barat Pangandaran cuma beberapa mil saja. Sambil jalan-jalan, teman saya cerita sedikit tentang tsunami yang menimpa Pangandaraan saat itu. Untungnya teman saya dan keluarganya masih selamat, Alhamdulillah. Terima kasih telah menyelamatkan teman saya ya Allah, saya nyaris tak bisa menginjakkan kaki di kota kelahiran bu Susi kalau bukan teman saya ini. hahahaa…

Jarak Pangandaran dari kota Bandung kalau menurut GPS sekitar 219km dengan jalur yang berkelok-kelok melewati beberapa kabupaten di Jawa Barat ; Bandung Timur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis. Kalau mau dihitung hitung sih kayaknya saya sudah hampir menginjakkan kaki di hampir semua bagian Jawa Barat, dibanding kota yang ada di Sulawesi Selatan.

Setibanya kami di Pangandaran, saya langsung diajak menyaksikan sunset di pinggir pantai, well meskipun sebenarnya di Sulawesi Selatan juga banyak pantai ; tapi bagi saya Pangandaran ini punya cerita sendiri. Cerita masa kecil bu Susi dan cerita tentang Tsunami.

Saya menyusuri pantai sambil mendengarkan cerita teman saya tentang Tsunami, pergaulan anak remaja sekitar dan well tentunya tentang sosok wanita terkenal yang asalnya dari kota ini ; Ibu Susi.  (Saya menyebut nama bu Susi di tulisan ini berapa kali ya?) hahhaa….

 

IMG_0989
Sunset di Pangandaran

 

IMG_0713
Tempat nongkrong anak gaul Pangandaran hahaha…

Capek jalan-jalan, rasa-rasanya pengen rebahan di kursi santai bean bag yang dijejer rapi menghadap ke pantai. Tak perlu memesan menu tertentu pada penyedia kursi sih sebenarnya untuk bisa menikmati bean bag yang nyaman ini ; hanya saja… yaa, masa iya duduk ga mesen apa apa bo’? Toh menu yang disediakan juga tidak begitu aneh-aneh, mungkin karna pengunjungnya memang jarang memesan menu yang aneh , but well minuman beralkohol sejenis bir bintang dijual bebas disini. It doesnt matter sih kalau buat saya hehehe…

IMG_0733
ini dia, teman saya yang selamat dari Tsunami. hiihihi…

Sambil duduk menyaksikan deru ombak dan matahari yang sebentar lagi menghilang dibalik awan, kita akhirnya memilih duduk di kursi bean bag yang kece ini. Sekilas kalau diperhatikan, cafe yang menyediakan kursi ini menciptakan nuansa Bali di oranamen cafenya, mungkin ownernya terinsipirasi oleh budaya Bali atau bisa jadi yang punya memang orang Bali hahaha… Jadi aja, foto ini rasa-rasanya seperti bukan di Pangandaran, tapi di Bali hahahah… eh padahal di Pangandaran. haha apalaaah….

IMG_0466
Pantai Timur Pangandaran, nah kalau yang ini Sunrise! Pants nya pakai batik pantai yang dijual di toko souvenir di Pangandaran.

Keesokan harinya saya diantar ke bagian timur pantai, khusus menyaksikan matahari terbit di pagi hari. Kami bergegas menuju arah yang berlawanan dengan pantai barat pagi pagi buta ; mengejar matahari yang menghiasi langit yang berubah menjadi pink di pagi hari. Tidak sia-sia, meskipun nyaris tidak dapat gambar sama sekali karna sibuk menikmati sendiri langit dan mataharinya yang indah. Pantai di sisi timur ini tidak kalah indahnya dibanding yang ada di barat. Di pinggir pantai tak ada cafe sama sekali, masih virgin, nyaris tak tersentuh apa apa kecuali susunan bebatuan yang menjadi pondasi untuk pelabuhan yang akan dibangun entah kapan. Konon, kata teman saya ; bagian pantai ini akan dibuat pelabuhan nantinya. Semoga saja!

IMG_0336
makan malam berkualitas.

Malam tiba, kami kembali ke pantai barat untuk mencari kulineran lainnya untuk santapan makan malam. Sebenarnya bukan makan malamnya yang penting, tapi spot fotonya yang lebih utama hahaha… Akhirnya kita memilih duduk di cafe yang bertemaram lampu remang-remang diatasnya. Laut tak lagi nampak, tapi deru ombak dan belaian angin yang berhembus dari arah pantai masih terasa hangat di pipi. aahh… i will never forget that feeling.

Menu makan malamnya sangat sederhana, tapi tempatnya luar biasa. Minumnya juga cuma milkshake (berharap bisa nyamber minuman meja sebelah hahahha) tapi yang duduk di depan saya sambil bercerita panjang lebar adalah wanita yang sama luar biasanya dengan kota ini. Soon, someday ; i’ll be back, Pangandaran!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s