Getting closer to the exit gate ; Jakarta!

Kata orang-orang Jakarta itu kejam, lebih kejam dari ibu tiri. Kata teman saya, dr. Supriyanto ; Jakarta itu keras bagi orang kecil. Lain pula kata supir taxi online yang mengantar saya dan suami sepulang kami nonton di Gandaria City di suatu malam di bulan April ; Jakarta bagaikan jebakan tikus bagi orang-orang yang tak punya modal datang ke Jakarta. heum…

Beberapa teman suami yang dulunya memilih lebih dulu bekerja di Jakarta, sekarang sudah kembali ke kota masing-masing ; ke Bandung, Muara Enim, Sukabumi, Bogor dan Makassar. Mungkin mereka tak menyerah, mereka hanya lelah atau mungkin mereka sudah memiliki pilihan yang lebih baik daripada hidup menghabiskan masa mudanya di Jakarta. Mungkin…

Tidak bisa dipungkiri memang, Jakarta ini sumpek, bising, panas dan yaa… Jakarta adalah kota yang merenggut waktu penghuninya setiap hari. Semacam Dementor pada serial Harry Potter ; perenggut kebahagiaan!

Tapi bagi kami, Jakarta adalah tempat yang membuat kami lebih dekat dengan pintu keluar. Entah kenapa, saya selalu terobsesi untuk sekedar menetap di negara lain walauΒ  hanya untuk beberapa tahun. Untuk sekolah ataupun bekerja, tak masalah… yang penting bisa meninggalkan negara ini sesaat saja. Meskipun tahun kemarin, kami hanya diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa negara ; bagi kami hal tersebut merupakan awal yang baik, paling tidak, kami sudah benar-benar melangkahkan kaki keluar dari negara ini, sejenak!

IMG_20171206_175632_168
Pemandangan Jakarta dari Satrio Tower Building lt. 24 di sore hari.

Saya dan suami tidak pernah punya impian apalagi merencanakan suatu hari akan pindah ke Jakarta. Bagi kami, Bandung adalah surga. Bagi kami hidup di Bandung itu cukup!

Tapi bukankah kata Albert Einstein “to keep your balance, you must keep moving“?

Di awal 2016, kami memutuskan pindah ke Jakarta ; meninggalkan semua kenyamanan yang disuguhkan Bandung kepada kami.Β Moving out from the comfort zone. Kami paham betul bahwa, berdiam lebih lama di titik nyaman tidak akan membuat hidup kami lebih baik. Β Bukan hanya itu, mungkin kami harus pergi sejenak supaya bisa merindukan Bandung untuk sesaat, untuk lebih memberi penghargaan yang lebih kepada Bandung. well… you’ll never know how precious it is, until you lose or you leave it , right?

IMG_20171222_073308_850
Pelangi di langit Jakarta, dari Balkon Apartemen kami di Cengkareng.

Satu pagi di bulan Maret 2016, suami berangkat ke Jakarta menggunakan mobil box yang sebelumnya sudah diisi beberapa perabot dari rumah kami di Bandung ; beberapa perabot yang sekiranya bisa kami gunakan di Jakarta kelak. Buku-buku, tv, kulkas dan semua pakaian kami. Rumah sengaja dikosongkan untuk penghuni baru yang akan menyewa rumah mungil kami sedangkan kendaraan yang biasa kami gunakan belum kami kirim kembali dari Makassar selepas digunakan untuk urusan kerja suami pada proyek pengadaan software di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah.

Saya melepas suami berangkat dengan perasaan yang campur aduk : sedih, sepi, bahagia, terharu, iba dan rindu. *nulis ini sambil berkaca kaca hiks* Baru kali ini suami berangkat lebih jauh tanpa menggunakan moda transportasi yang lebih nyaman. Jarak Jakarta – Bandung kira kira kurang lebih 200km dan ditempuh sekurang-kurangnya 2 jam 45 menit dalam keadaan ramai lancar. Saya sedih membayangkan bagaimana rasanya suami duduk di kursi mobil yang joknya pun nyaris tak empuk dan tak bisa direbahkan ; melelahkan pasti!

Tahun ini, akan menjadi tahun ke dua kami di Jakarta. Jakarta yang bagi sebagian orang adalah representasi kota yang tak ramah, tumbuh dengan angkuh dan penuh dengan manusia-manusia yang individualistis. Separuh orang pun berasumsi bahwa, ketika seorang mampu bertahan hidup di Jakarta maka bisa dikatakan seseorang tersebut sudah akan mampu bertahan hidup di beberapa negara di belahan bumi manapun. ahh… segitunya.

Jakarta, begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya di kota ini ; di tengah hingar bingar lampu temaram, di pinggir derasnya aliran sungai, di bawah langit yang kadang tak ramah, di antara sekumpulan tikus-tikus yang menjadikan mereka mangsa yang empuk untuk dihisap kebahagiaannya.

Waktu saat ini menunjukkan pukul 20:59 WIB dan suami belum tiba di rumah selepas bekerja, ngantor di klien untuk sementara waktu sampai batas waktu yang tidak bisa diprediksi ; di bilangan Senayan Jakarta Selatan sana. Kota ini kejam, hanya saja kota ini memberikan penghargaan yang tinggi bagi seorang IT Engineer macam suami saya. Dia menghabiskan waktu hampir 4 jam sehari di perjalanan menuju dan pulang kantor. Begitulah hidup, kadang memang waktu tak bisa jalan beriringan dengan uang meskipun ada pepatah yang mengatakan waktu adalah uang. Kita dipaksa memilih, antara uang dan waktu.

Jakarta, entah sampai kapan kami bertahan di kota ini tapi setidaknya kami tak selalu mengaggap kota ini kejam. Kami mengambil banyak manfaat dari kota ini, kami menimba banyak sekali ilmu dari tempat yang keras ini, kami menyemai rindu dan memupuk cinta yang besar satu sama lain, di sini ; di Jakarta.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s