Taman Kota Babakan Siliwangi Bandung.

Taman Kota Babakan Siliwangi (biasanya disingkat Baksil) adalah hutan kota yang merupakan ruang terbuka hijau yang terletak di tengah kota Bandung.  Ruang terbuka hijau ini mampu menghasilkan oksigen dan pemandangan yang indah dengan deretan pohon pohon yang bisa dijadikan tempat aktifitas atau refreshing bagi keluarga.

Lanjutan pembangunan jalur pedestrian ini yang semula hanya 600 m diperpanjang menjadi 2,3 km pada bulan September 2017 kemarin dan menelan biaya sebesar Rp 11 M.

DSC08039

Taman Kota yang sekaligus sebagai Ruang Terbuka Hijau di Bandung ini berlokasi di Jalan Siliwangi No 7 Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung Jawa Barat Indonesia, sebuah tempat yang berada di kawasan jalan Taman Sari.

DSC08044

Forest Walk ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana udara yang bersih di kota Bandung. Lagipula, tidak dikenakan biaya sama sekali untuk menikmati tempat ini, cukup bayar parkir dan beli minum kalau haus. hehehe…

DSC08034DSC08030DSC07993DSC07973DSC08008DSC07968DSC07991

Selain sebagai jalur pedestrian dengan panjang kurang lebih 2,3 km, forest walk ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk foto foto. Banyak yang bawa kamera gede-gede kesini. hehhee… oh iya, tempat ini juga sekarang jadi tempat hunian bagi beberapa ekor tupai, kalau beruntung kalian akan ketemu dengan tupai yang meloncat lincah diantara pohon-pohon.

Skyline Best View Resto, Bukit Pakar Dago.

Dago Pakar Timur memang sudah bukan tempat yang asing lagi dengan cafe-cafe atau resto middle up yang menjadikan pemandangan alam sebagai nilai jual  yang lebih. Sebut saja Sierra, Chocorico, Lisung, The Valley dan Takigawa yang sudah lebih dulu hadir sebagai restoran yang menyuguhkan view yang luar biasa dan tempat yang cozy untuk duduk menghabiskan waktu berasama pasangan dan keluarga. Well. bagi saya ; semua tempat ini konsepnya tidak jauh berbeda. hehehe…

Nah, beberapa bulan yang lalu berseliweran foto- foto tempat ini di Instagram (korban IG banget saya ya hahaha), karna penasaran ; seberes makan di Bebek Ali Boromeus, saya dan suami berangkat ke tempat ini, heum dalam keadaan perut sangat penuh dengan 3 porsi bebek yang kami habiskan berdua. ooopsss…

Skyline ini letaknya sejajar dengan resto pendahulunya (Sieraa dkk)  dan letaknya paling ujung tepat di depan Kopi Ireng. Setibanya kami di Skyline Resto, kami langsung menuju ke lantai 3 yang heum seperti yang kami duga ; konsepnya hampir sama seperti cafe dan resto sebelumnya hehehe…

Restoran ini terdiri dari 4 lantai, dimana lantai 1 adalah Parkiran, lantai 2 adalah hall yang digunakan untuk acara dan lantai 3 adalah restoran semi outdoor. Tenang, dari lantai 1 ke lantai 3 disediakan lift kok hahha… tapi untuk menuju lantai rooftoop di lantai 4 kita harus menggunakan tangga.

DSC08095

Setelah dapat kursi di lantai 3 kami dipersilahkan menuju ke rooftop khusus buat foto-foto. Rooftoop ini tidak untuk nongkrong ya, tapi disediakan khusus hanya untuk mengambil gambar.

DSC08049DSC08072

DSC08064

Restoran yang baru buka akhir tahun 2017 kemarin menyediakan menu yang dominan kebarat-baratan alias western food seperti pizza, pasta dkk ; bisa liat menu dan harganya di gambar yang tak beraturan di bawah ini heuheu.

Karna kebetulan sudah agak sore dan kami sudah sangat kenyang dengan Bebek Boromeus jadi kami tak duduk lama. Saya memesan minuman semacam Oreo Shake dan suami memesan Machiato. Kebetulan kursi yang di pinggir merupakan kursi panas ; dimana semua orang berebutan untuk duduk di posisi ini dan demi keadilan sosial bagi rakyat Indonesia jadi kayaknya tidak begitu adil kalau kami duduk lebih lama heehheee…

DSC08130

Untuk dapat the best view dan kesan romatis, posisi duduk ini memang adalah posisi yang paling pas, tapi yang paling tidak pernah kosong juga. Bahkan untuk duduk disini, kita harus reservasi terlebih dahulu sebelum masuk. Heum…

Sebenarnya tak masalah mau duduk di sisi mana, yang paling penting adalah siapa yang duduk dan tetap tinggal di sisi kita. Yang lebih masalah lagi kalau datangnya kosong alias sendirian hahaha…

 

DSC08101DSC08098DSC08099

Menjelang malam, setiap meja diberi lilin untuk menambah kesan romantis buat pengunjung. Penerangannya memang sengaja dibuat agak remang-remang, sekali lagi ; hampir sama seperti restoran-restoran pendahulunya. hehehe…

DSC08140

Skyline Best View Resto,

Jl. Bukit Pakar Timur No. 108, Dago Atas, Bandung

No. Telp 022 20455666

Javan Steak ; kuliner Bandung yang tak terkikis jaman

Entah sejak kapan Steak ini hadir di kota Bandung, tapi katanya dulu warung steak ini awalnya cuma pakai gerobak di depan Apotek Kimia Farma Dago. Saya dan suami juga baru menemukan tempat ini di tahun 2009, di awal-awal kami pacaran hehehhe…

Tempatnya juga rada-rada nyempil dan terkesan invisible, mungkin karna warung ini hanya menyewa satu lorong yang bisa disebut garasi dari bangunan cafe di sebelahnya. Meskipun begitu, tempat ini tidak pernah sepi oleh pengunjung, kadang kala kami harus antri terlebih dahulu untuk mendapatkan tempat duduk ; belum lagi antri untuk mendapatkan pesanan yang kami inginkan. So, disarankan untuk meluangkan waktu yang lebih kalau mau makan disini. Javan Steak hanya buka dari pukul 05:00 sore yaa…

DSC08145

Apapun makanannya minumnya pasti teh manis, hahah… sunda pisan pokokna mah. Tiap kali kami kesini, saya dan suami kalau ga mesen Mexican ya Jager ; jarang digonta ganti.

DSC08146DSC08157

Side Dish nya bisa dipilih antara kentang goreng atau spaghetty, tapi kalau saya sih tetep lebih milih kentang goreng.

 

Ekpektasi kalian jangan terlalu tinggi ketika kesini, warung ini memang hanya warung makan biasa, rasa steaknya juga standar, tapi dijamin kalian akan kangen lagi untuk balik kesini ; selain karna harganya murah, rasanya juga tidak terlalu mengecewakan. Untuk kuliner, tempat ini adalah salah satu yang wajib saya kunjungi ketika berkunjung ke Bandung.

DSC08141

Javan Steak, Jl Sulanjana No 9 Bandung buka setiap hari dari pukul 05:00 Sore.

Orchid Forest Lembang

Setelah 2 bulan yang rasanya seperti bertahun tahun tak ke Bandung, akhirnyaa… bulan ini suami bolos kerja lagi sehari demi nemenin saya ke Bandung hahaha… *a day off wont hurt* 

Kali ini kita mengunjungi Orchid Forest Cikole di Lembang gara-gara liat foto ponakan yang beberapa hari yang lalu gathering di sana sama ibu-ibu komplek heu. Berangkat ke Bandung kali ini memang sengaja buat liburan pendek gara-gara dua bulan ini suami sibuk transfer knowledge di kantor yang ditinggalkan dan agak sedikit riweuh beradaptasi sama kantor lama yang langsung live di klien.

Jam 7 pagi kita sudah berangkat ke Lembang demi menghindari macet, dan benar saja beberapa meter sebelum Farm House, kendaraan sudah mengantri panjang.

Kurang dari pukul 10, saya dan suami sudah tiba di Orchid Forest yang ternyata letaknya pas di samping Grafika Cikole. Jarak dari jalan utama ke Orchid Forest ini kira-kira kurang lebih 700 m dan dibagi dengan beberapa gate entry. Tarifnya sendiri saya rasa agak sedikit mahal dengan fasilitas yang belum begitu banyak, 30 ribu / orang dan parkir 5rb untuk kendaraan roda 4.

DSC08162

Orchid Forest ini berada di lahan 14 hektar yang ditumbuhi oleh hutan pinus dan terdapat koleksi 157 anggrek langka dari seluruh dunia. Pengunjung bisa belajar budidaya Anggrek sekaligus membeli anggrek di tempat ini.

DSC08174IMG20180128105721IMG20180128105436IMG20180128105323

Pengunjung bisa kemping di area camping ground dengan biaya Rp.450 ribu dengan kapasitas tenda untuk 4 orang. Sedangkan tenda dengan kapasitas 9 orang di kenakan biaya Rp.950 ribu permalamnya sudah termasuk fasilitas breakfast, api unggun dan jagung bakar.

IMG20180128110804

Selain itu banyak spot foto yang menarik dan instagramable bagi pengunjung yang aktif banget di social media ahahhaha… oh iya, untuk keperluan pemotretan produk atau prewedding, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp.500rb hihihi… mahal ya cyn?

Tak perlu khawatir ketika kelaparan, apalagi cuaca dingin di tempat ini memang lebih mudah menstimulasi rasa lapar dibanding rasa kangen #eh, pengunjung bisa memilih mau makan di kantin atau di cafe ; keduanya menyediakan makanan dan minuman yang beraneka ragam , yang dijamin bisa menghangatkan badan yang kesepian err maksudnya kedinginan -__-‘

IMG20180128111342

Ternyata, 30ribu itu belum termasuk jembatan gantung ini hahah… jadi untuk berfoto di jembatan gantung, pengunjung diwajibkan membayar sebesar Rp15rb dan gratis naik flying fox. Halaahh… kirainnn hahahhaa… padahal spot foto paling kece tuh di jembatan ini.

IMG20180128111614

Di hari kami datang, cuaca sedang mendung dan angin berhembus kencang, beberapa jam kemudian hujan turun deras. Agak sulit mendapat gambar dengan pencahayaan yang cukup. Selain karna areanya luas, jalannya juga agak naik turun ; jadi disarankan untuk menggunakan alas kaki yang nyaman untuk jalan.

DSC08244DSC08177DSC08205

Orchid Forest yang letaknya di Jl. Tangkuban Perahu Cikole Lembang Kabupaten Bandung Barat ini buka dari pukul 08:00-17:00 WIB.

Getting closer to the exit gate ; Jakarta!

Kata orang-orang Jakarta itu kejam, lebih kejam dari ibu tiri. Kata teman saya, dr. Supriyanto ; Jakarta itu keras bagi orang kecil. Lain pula kata supir taxi online yang mengantar saya dan suami sepulang kami nonton di Gandaria City di suatu malam di bulan April ; Jakarta bagaikan jebakan tikus bagi orang-orang yang tak punya modal datang ke Jakarta. heum…

Beberapa teman suami yang dulunya memilih lebih dulu bekerja di Jakarta, sekarang sudah kembali ke kota masing-masing ; ke Bandung, Muara Enim, Sukabumi, Bogor dan Makassar. Mungkin mereka tak menyerah, mereka hanya lelah atau mungkin mereka sudah memiliki pilihan yang lebih baik daripada hidup menghabiskan masa mudanya di Jakarta. Mungkin…

Tidak bisa dipungkiri memang, Jakarta ini sumpek, bising, panas dan yaa… Jakarta adalah kota yang merenggut waktu penghuninya setiap hari. Semacam Dementor pada serial Harry Potter ; perenggut kebahagiaan!

Tapi bagi kami, Jakarta adalah tempat yang membuat kami lebih dekat dengan pintu keluar. Entah kenapa, saya selalu terobsesi untuk sekedar menetap di negara lain walau  hanya untuk beberapa tahun. Untuk sekolah ataupun bekerja, tak masalah… yang penting bisa meninggalkan negara ini sesaat saja. Meskipun tahun kemarin, kami hanya diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa negara ; bagi kami hal tersebut merupakan awal yang baik, paling tidak, kami sudah benar-benar melangkahkan kaki keluar dari negara ini, sejenak!

IMG_20171206_175632_168
Pemandangan Jakarta dari Satrio Tower Building lt. 24 di sore hari.

Saya dan suami tidak pernah punya impian apalagi merencanakan suatu hari akan pindah ke Jakarta. Bagi kami, Bandung adalah surga. Bagi kami hidup di Bandung itu cukup!

Tapi bukankah kata Albert Einstein “to keep your balance, you must keep moving“?

Di awal 2016, kami memutuskan pindah ke Jakarta ; meninggalkan semua kenyamanan yang disuguhkan Bandung kepada kami. Moving out from the comfort zone. Kami paham betul bahwa, berdiam lebih lama di titik nyaman tidak akan membuat hidup kami lebih baik.  Bukan hanya itu, mungkin kami harus pergi sejenak supaya bisa merindukan Bandung untuk sesaat, untuk lebih memberi penghargaan yang lebih kepada Bandung. well… you’ll never know how precious it is, until you lose or you leave it , right?

IMG_20171222_073308_850
Pelangi di langit Jakarta, dari Balkon Apartemen kami di Cengkareng.

Satu pagi di bulan Maret 2016, suami berangkat ke Jakarta menggunakan mobil box yang sebelumnya sudah diisi beberapa perabot dari rumah kami di Bandung ; beberapa perabot yang sekiranya bisa kami gunakan di Jakarta kelak. Buku-buku, tv, kulkas dan semua pakaian kami. Rumah sengaja dikosongkan untuk penghuni baru yang akan menyewa rumah mungil kami sedangkan kendaraan yang biasa kami gunakan belum kami kirim kembali dari Makassar selepas digunakan untuk urusan kerja suami pada proyek pengadaan software di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah.

Saya melepas suami berangkat dengan perasaan yang campur aduk : sedih, sepi, bahagia, terharu, iba dan rindu. *nulis ini sambil berkaca kaca hiks* Baru kali ini suami berangkat lebih jauh tanpa menggunakan moda transportasi yang lebih nyaman. Jarak Jakarta – Bandung kira kira kurang lebih 200km dan ditempuh sekurang-kurangnya 2 jam 45 menit dalam keadaan ramai lancar. Saya sedih membayangkan bagaimana rasanya suami duduk di kursi mobil yang joknya pun nyaris tak empuk dan tak bisa direbahkan ; melelahkan pasti!

Tahun ini, akan menjadi tahun ke dua kami di Jakarta. Jakarta yang bagi sebagian orang adalah representasi kota yang tak ramah, tumbuh dengan angkuh dan penuh dengan manusia-manusia yang individualistis. Separuh orang pun berasumsi bahwa, ketika seorang mampu bertahan hidup di Jakarta maka bisa dikatakan seseorang tersebut sudah akan mampu bertahan hidup di beberapa negara di belahan bumi manapun. ahh… segitunya.

Jakarta, begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya di kota ini ; di tengah hingar bingar lampu temaram, di pinggir derasnya aliran sungai, di bawah langit yang kadang tak ramah, di antara sekumpulan tikus-tikus yang menjadikan mereka mangsa yang empuk untuk dihisap kebahagiaannya.

Waktu saat ini menunjukkan pukul 20:59 WIB dan suami belum tiba di rumah selepas bekerja, ngantor di klien untuk sementara waktu sampai batas waktu yang tidak bisa diprediksi ; di bilangan Senayan Jakarta Selatan sana. Kota ini kejam, hanya saja kota ini memberikan penghargaan yang tinggi bagi seorang IT Engineer macam suami saya. Dia menghabiskan waktu hampir 4 jam sehari di perjalanan menuju dan pulang kantor. Begitulah hidup, kadang memang waktu tak bisa jalan beriringan dengan uang meskipun ada pepatah yang mengatakan waktu adalah uang. Kita dipaksa memilih, antara uang dan waktu.

Jakarta, entah sampai kapan kami bertahan di kota ini tapi setidaknya kami tak selalu mengaggap kota ini kejam. Kami mengambil banyak manfaat dari kota ini, kami menimba banyak sekali ilmu dari tempat yang keras ini, kami menyemai rindu dan memupuk cinta yang besar satu sama lain, di sini ; di Jakarta.

 

 

 

 

Making memories ; Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey

Jalan-jalan kali ini judulnya ngasuh ponakan hehee… Hari Minggu, saya dan suami beserta 3 ponakan yang pada nyebelin semua (hahaha) subuh subuh udah berangkat ke Ciwidey tepatnya ke Rancabali (lebih jauh dari kawah putih pisan). Liat di Instagram tempat yang kekinian pisan ini, bikin kita ; anak dan ibu ibu jaman millenial ini gak kuat nahan napsu buat datang ke sini hahhaa…

Udah berangkat subuh pisan dari Bandung, eh masih kena macet juga di jalan gara gara banyak yang hajatan dan menggunakan separuh badan jalan untuk acara. Fiuhhh…

Lokasi Glamping Lakeside ini tepat ada di pinggir situ Patenggang, rutenya juga sama seperti ketika menuju ke Kawah Putih ; hanya saja letak Glamping ini memang lebih jauh sedikit dibanding Kawah Putih.

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.01

Karena kita datang pas weekend jadi tempat ini memang rada-rada padat sama pengujung, apalagi kita tibanya juga udah agak siang gara-gara kepegat macet di Kopo dan Soreang.

Fasilitas di tempat ini lumayan banyak, ada arena bermain untuk anak-anak dimana anak-anak bisa beraktifitas fisik dan memberi makan kelinci (Wortelnya dibeli ya, ga gratis). Restoran Phinisi yang menyediakan berbagai kuliner khas Sunda dan tentunya spot foto yang lumayan kece.

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.01 (1)

Glamping sebenarnya adalah singkatan dari Glamour Camping, yang maksudnya kemah-kemahan tapi rada-rada mewah ; bukan camping yang tiduran tanpa kasur dan tanpa wc pribadi untuk mandi atau camping dengan indomie sebagai makanan utamanya  hihihi…

Disediakan resort yang terletak tepat di pinggir Situ (danau) Pateggang ini yang bisa disewa dari 1jutaan sampai 2jutaan per malam. Tergantung dari type kamar dan waktunya. Untuk info lebih lanjut bisa meluncur ke Instagram Officialnya di @lakeside_glamping atau websitenya di sini

Tarif :

  1. Teras bintang Rp 20.000
  2. Taman kelinci Rp 15.000
  3. Taman angsa Rp 15.000
  4. Jembatan pinisi Rp 15.000
  5. Jembatan danau Rp 15.000
  6. Strawberry farm Rp 15.000
  7. Tea plantation Rp 15.000
  8. Patenggang lakeside Rp 20.000
  9. Batu cinta Rp 10.000
  10. Kawah rengganis Rp 20.000
  11. Mandi lumpur Rp 10.000
  12. Perahu Rp 25.000
  13. Kano Rp 20.000

Tiket terusan;

  • A. 1 sd 10 harga normal Rp 130.000, promo Rp 50.000
  • B. 1 sd 12 harga normal Rp 185.000, promo Rp 75.000
  • C. 1 sd 14 harga normal Rp 235.000, promo Rp 100.000

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.04 (1)

Mahal ya cyn? Ho oh… hahhaa… tapi worth it kok buat dicobain sesekali doang mah. Karna kita datangnya pagi dan tempatnya padat banget, jadi kita ga lama-lama. Aslinya, mending datang pas bukan weekend dan bukan musim liburan. Soalnya, kalau lagi padat gini, buat foto di jembatan menuju resto aja, antrinya minta ampun. Ada baiknya memang kita meluangkan waktu yang lebih untuk bisa menikmati tempat ini karna sebenarnya pemandangan malam dari resto Phinisi-nya lebih keren dengan lampu-lampu yang menghiasi jembatan yang membelah danau.

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.04

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.00

WhatsApp Image 2018-01-25 at 17.01.09

Rugi sih sebenarnya kalau cuma sebentar, karna selain bayarnya lumayan mahal, jarak yang ditempuh dari Bandung ke Rancabalijuga  lumayan jauh ; kurang lebih 58 km dengan waktu tempuh kurang dari 3 jam kalau sedang tidak macet. Salah satu ponakan saya sampai muntah muntah di jalan sebelum sampai ke tempat ini hahahaa…

 

Tafso Barn ; Menikmati sarapan di lereng gunung.

Saya dan suami adalah dua orang yang punya hobby sama ; jalan jalan, makan dan nonton! Kami berdua sepertinya bukan type manusia yang senang bekerja hehehhe… i am a jobless housewife and my husband is an engineer yang setiap dua minggu sekali menambah jatah liburnya satu hari ; entah dengan alasan apapun itu. Kadang dia ngambil a day off hanya sekedar nemenin saya main ludo di rumah.

Nah karna kita awalnya memang menetap di Bandung, jadi kayaknya di blog ini bakalan lebih banyak tulisan tentang Bandung dan sekitarnya dibanding kota lain.

Weekend tiba, yuhuy… itu artinya saya bisa minta jalan-jalan dari pagi sampai capek. Suatu Sabtu di bulan Desember (ecieee.. apa sih) kita memilih cari sarapan di area Punclut ; kebetulan dapat info dari Instagram kalau ada cafe baru yang tempatnya kece buat foto-foto.

Tafso Barn, Cafe ini letaknya di daerah Punclut Cieumbeleuit, tepatnya di Jl. Pagermaneuh. Melawati jalan yang menanjak di bilangan Dago pagi hari, suami memacu kendaraannya lebih kenceng, maklum tanjakan menuju ke tempat ini memang agak terjal, selain itu jalanan tidak cukup luas untuk dilewati dua buah kendaraan roda empat. Sebenarya jalan utama menuju ke tempat ini adalah dengan melewati Jl. Cieumbeleuit, tapi karna aksesnya lebih sempit , jadi kami selalu memilih lewat Dago yang tentu tanjakannya kurang lebih sama.

Melewati beberapa warung makan kaki lima yang berjejer rapi dan selalu ramai di malam hari, pagi itu saya dan suami tiba di Tafso Barn kurang dari satu jam. Jalur ini adalah jalur yang selalu macet di lewati kendaraan, selain karna memang daerah wisata ; jalur ini juga adalah jalur alternatif menuju ke Lembang. Jadi kenapa saya lebih memilih ke tempat ini di pagi hari, ya karna alasan teknis yang tadi ; Jalan sempit, macet dan nanjak. hehehehe…

Tafso Barn ini berdampingan dengan Lereng Anteng yang sudah lebih dulu eksis di bukit daerah Punclut, areal parkirannya pun menyatu ; sehingga kita bisa memilih cafe mana yang menurut kita lebih menarik untuk dikunjungi , karna sebenarnya pemandangannya pun tidak jauh beda ; nge view Bandung dari atas. Tentang Lereng Anteng sendiri akan saya tulis secara terpisah di postingan selanjutnya.

 

DSC04847

Kami tiba di Tafso Barn kurang dari jam 8 pagi, jadi tempatnya juga masih sepi, pegawainya baru datang satu-satu, meja masih separuh dirapikan dan tentunya belum open order. Tapi baiknya adalah, karna kita dibolehin masuk bahkan sebelum semua pegawainya datang hehehe…

DSC04860

Karna masih pagi dan masih kosong, jadi kita bebas foto-foto sesuka hati, bisa salto juga sekalian hahaha… Tidak ada gangguan sama sekali dari pengunjung, karna kita adalah pengunjung pertama yang sengaja datang lebih pagi buat foto-foto. hahaha…

DSC04899

DSC04935
Pegawainya masih pada briefing hahaha…
DSC04884
Masih sepi jadi bebas foto-foto

DSC04875DSC04918

Well, pictures speak louder than words kan ya? jadi udah bisa liat sendiri kan kalau tempat ini highly recommended untuk jadi list kalian yang ingin instagramnya makin kekinian hehehhe… Tidak perlu takut kehabisan tempat untuk duduk, karna tempat ini menyediakan banyak kursi indoor maupun outdoor. Makanan yang disajikan di sini ada Indonesian foodwestern food, dan Japenese food dengan range harga Rp 5000 s/d Rp 55.000.

Pemandangan malam hari tak kalah keren sebenarnya, hanya saja… akses menuju ke tempat ini kalau udah agak sore menjelang malam kadang suka macet parah. Jadi saya sarankan datanglah lebih pagi. Untuk sarapan yang berkualitas, dengan udara yang sejuk dan segar saya jamin weekend kalian akan lebih menyenangkan. oh iya Jangan lupa pesan hot chocolate, minuman favorite saya kalau berkunjung ke tempat ini. hehehhe…

 

Tafso Barn, Jl Pageurmaneuh No.1

Open Daily 09:00-23:00

Ig : @heytafso

Skywalk, Teras Cihampelas Bandung.

Berkunjung ke Bandung, tidak afdol rasanya kalau tidak menginjakkan kaki di jalan Cihampelas yang terkenal dengan dagangan pinggir jalan yang beraneka ragam. Dari pedagang asongan souvenir kaca kacaan, pedagang jeans, jaket kulit, hiasan dinding, baju kaos aneka rupa yang disablon dengan tulisan Bandung dengan beragam desain sampai pedagang cuanki yang dengan setia menanti pembeli yang enggan menghabiskan uangnya untuk sekedar mengisi perut di mall Cihampelas Walk.

Diresmikan Februari 2017 lalu oleh Walikota Bandung bapak Ridwan Kamil, Skywalk yang berdiri di atas jalan raya Cihampelas dengan panjang kurang lebih 450 meter ini menjadi salah satu tujuan wisata wajib bagi pengunjung kota Bandung. Jembatan ini adalah satu-satunya jembatan pedestrian di Indonesia dan kedua di dunia setelah New York. Keren kan Bandung teh?

Di Sepanjang jembatan ini terdapat pedagang kaki lima yang direlokasi oleh pemerintah kota Bandung, mereka adalah pedagang yang semula berjualan di trotoar sepanjang jalan Cihampelas. Terdapat hampir 200 pedagang kaki lima yang akhirnya ikut menambah daya tarik skywalk yang lebarnya kurang lebih 9 meter ini.

DSC02127DSC02136DSC02133DSC02126

DSC02121
Bandung rasa London ya?

 

DSC02118

Kota Bandung memang sangat menarik, apalagi ditambah cuaca yang suka sendu sendu aizawa #eh. Salah satu kota yang menjadi saksi hidup saya dan suami, salah satu kota tujuan kami untuk pulang setelah menjelajah dunia. hahahasik…

Well, kalau kalian berkunjung ke sini, pastikan tidak sedang hujan, karna di sepanjang jembatan pedestrian ini tidak disediakan tempat berteduh sama sekali. Tapi, kalau nyari kulineran murah dan duduk nyaman bersama pasangan, skywalk ini udah paling tepat tempatnya. Ada pedagang batagor, cuanki, jus, sosis, bakso dsb. Bukan cuma untuk yang lagi kasmaran, untuk keluarga yang ingin membawa anak yang mengidolakan beberapa tokoh kartun dan animasi, tempat ini cocok buat foto-foto yang dijamin istagramable banget. ( hahaha buibu korban sosmed).

DSC02149
Kalung dagangan harga 10rban hahaha
DSC02116
Salah satu bunga yang lagi mekar di Skywalk
DSC07234
Ditutup sama foto kami berdua!

Bandung, memang tidak pernah hanya sekedar perihal letak geografis, ini lebih tentang perasaan dan setiap peristiwa yang pernah kami lewati bersama di kota ini.

 

Menjelang 10 Tahun pasca tsunami Pangandaran.

Tulisan ini mungkin tulisan yang super duper late post, dikarenakan selama ini saya hanya fokus pada social media bernama Instagram dan Path (yang akhirnya dinonaktifkan) dan saya pun baru memikirkan untuk memulai nulis blog ini di awal tahun 2017 kemarin hahhaa.. telat gaul banget ya saya?

Yak, hari ini terjadi gempa di Lebak Banten dengan magnitudo 5,1 SR dengan kedalaman 42 km yang di waktu yang sama sehari sebelumnya (kemarin) sudah terjadi gempa di lokasi yang sama pula dengan magnitudo yang lebih besar yaitu 6,1 SR di kedalaman 10Km. Gempa kemarin sampai bikin saya yang  sedang tidur di flat kami di lt.12 (aktualnya lantai 14) berlari setengah sadar dengan menggunakan pakaian seadanya meninggalkan gedung lewat tangga darurat. Kebayang kan turun dari lantai 14 menuju lantai 1 lewat tangga? ahahha… hari ini kaki saya baru berasa pegalnya.

Meskipun menurut BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami tapi, bagi saya ; gempa kemarin sudah sangant meninggalkan trauma yang bikin saya hari ini memilih mandi lebih cepat dari biasanya. hahahha… takut dong ada gempa pas lagi bugil di kamar mandi.

Kembali ke Pangandaran, Tsunami Pangandaran yang terjadi pada bulan Juli 2006 silam tidak didahului gempa sama sekali. Jadi hampir tidak ada evakuasi sebelum tsunami ataupun peringatan sama sekali untuk menghindar. Tsunami ini menurut menurut data WHO telah merenggut 668 korban jiwa, 65 hilang dan 9rb lainnya luka-luka.  heum 2006 saya ada dimana ya? 2006 saya sibuk ngurusin pacar kayaknya hahhaa…

Jadi, kenapa nulis tentang Pangandaran hari ini, karna yaa itu… gara gara gempa yang bikin saya takut tidur siang, takut di kamar sendirian dan berakhir saya duduk di depan kolam renang sambil bawa laptop, ubek ubek album foto dan berusaha merangkai kata supaya enak dibaca (meskipun sebenarnya ga ada enak-enaknya ya?)

 

IMG_0704

 

Menjelang akhir tahun 2015, saya punya kesempatan berkunjung ke Pangandaran (yeay akhirnya). Kebetulan teman kuliah saya ada yang orang Pangandaran asli, yang tiap weekend berangkat ke Bandung cuma buat kuliah doang. Kali ini semua akomodasi bisa dihitung gratisan hahaha, maklum saya mahasiswi kere yang doyan banget jalan jalan dan foto-foto. Berangkat ke Pangandaran numpang mobil teman, nginap di rumah teman juga yang jarak dari rumah ke pantai barat Pangandaran cuma beberapa mil saja. Sambil jalan-jalan, teman saya cerita sedikit tentang tsunami yang menimpa Pangandaraan saat itu. Untungnya teman saya dan keluarganya masih selamat, Alhamdulillah. Terima kasih telah menyelamatkan teman saya ya Allah, saya nyaris tak bisa menginjakkan kaki di kota kelahiran bu Susi kalau bukan teman saya ini. hahahaa…

Jarak Pangandaran dari kota Bandung kalau menurut GPS sekitar 219km dengan jalur yang berkelok-kelok melewati beberapa kabupaten di Jawa Barat ; Bandung Timur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis. Kalau mau dihitung hitung sih kayaknya saya sudah hampir menginjakkan kaki di hampir semua bagian Jawa Barat, dibanding kota yang ada di Sulawesi Selatan.

Setibanya kami di Pangandaran, saya langsung diajak menyaksikan sunset di pinggir pantai, well meskipun sebenarnya di Sulawesi Selatan juga banyak pantai ; tapi bagi saya Pangandaran ini punya cerita sendiri. Cerita masa kecil bu Susi dan cerita tentang Tsunami.

Saya menyusuri pantai sambil mendengarkan cerita teman saya tentang Tsunami, pergaulan anak remaja sekitar dan well tentunya tentang sosok wanita terkenal yang asalnya dari kota ini ; Ibu Susi.  (Saya menyebut nama bu Susi di tulisan ini berapa kali ya?) hahhaa….

 

IMG_0989
Sunset di Pangandaran

 

IMG_0713
Tempat nongkrong anak gaul Pangandaran hahaha…

Capek jalan-jalan, rasa-rasanya pengen rebahan di kursi santai bean bag yang dijejer rapi menghadap ke pantai. Tak perlu memesan menu tertentu pada penyedia kursi sih sebenarnya untuk bisa menikmati bean bag yang nyaman ini ; hanya saja… yaa, masa iya duduk ga mesen apa apa bo’? Toh menu yang disediakan juga tidak begitu aneh-aneh, mungkin karna pengunjungnya memang jarang memesan menu yang aneh , but well minuman beralkohol sejenis bir bintang dijual bebas disini. It doesnt matter sih kalau buat saya hehehe…

IMG_0733
ini dia, teman saya yang selamat dari Tsunami. hiihihi…

Sambil duduk menyaksikan deru ombak dan matahari yang sebentar lagi menghilang dibalik awan, kita akhirnya memilih duduk di kursi bean bag yang kece ini. Sekilas kalau diperhatikan, cafe yang menyediakan kursi ini menciptakan nuansa Bali di oranamen cafenya, mungkin ownernya terinsipirasi oleh budaya Bali atau bisa jadi yang punya memang orang Bali hahaha… Jadi aja, foto ini rasa-rasanya seperti bukan di Pangandaran, tapi di Bali hahahah… eh padahal di Pangandaran. haha apalaaah….

IMG_0466
Pantai Timur Pangandaran, nah kalau yang ini Sunrise! Pants nya pakai batik pantai yang dijual di toko souvenir di Pangandaran.

Keesokan harinya saya diantar ke bagian timur pantai, khusus menyaksikan matahari terbit di pagi hari. Kami bergegas menuju arah yang berlawanan dengan pantai barat pagi pagi buta ; mengejar matahari yang menghiasi langit yang berubah menjadi pink di pagi hari. Tidak sia-sia, meskipun nyaris tidak dapat gambar sama sekali karna sibuk menikmati sendiri langit dan mataharinya yang indah. Pantai di sisi timur ini tidak kalah indahnya dibanding yang ada di barat. Di pinggir pantai tak ada cafe sama sekali, masih virgin, nyaris tak tersentuh apa apa kecuali susunan bebatuan yang menjadi pondasi untuk pelabuhan yang akan dibangun entah kapan. Konon, kata teman saya ; bagian pantai ini akan dibuat pelabuhan nantinya. Semoga saja!

IMG_0336
makan malam berkualitas.

Malam tiba, kami kembali ke pantai barat untuk mencari kulineran lainnya untuk santapan makan malam. Sebenarnya bukan makan malamnya yang penting, tapi spot fotonya yang lebih utama hahaha… Akhirnya kita memilih duduk di cafe yang bertemaram lampu remang-remang diatasnya. Laut tak lagi nampak, tapi deru ombak dan belaian angin yang berhembus dari arah pantai masih terasa hangat di pipi. aahh… i will never forget that feeling.

Menu makan malamnya sangat sederhana, tapi tempatnya luar biasa. Minumnya juga cuma milkshake (berharap bisa nyamber minuman meja sebelah hahahha) tapi yang duduk di depan saya sambil bercerita panjang lebar adalah wanita yang sama luar biasanya dengan kota ini. Soon, someday ; i’ll be back, Pangandaran!

How it feels to be a jobless housewife?

Saya adalah wanita yang sebelum menikah adalah seseorang yang sangat aktif. Sekolah sambil bekerja, bekerja sambil main, main pun kadang sampai lupa waktu. Saya jarang di rumah sejak duduk di bangku SMP. hahahhaha…

Setelah menikah, saya memilih untuk diam di rumah : menyiapkan bekal suami ke kantor, menyiapkan pakaiannya, mengantar suami sampai ke pintu di pagi hari, memastikan rumah tetap bersih, memasak untuk makan malam suami dan dengan sangat bahagia menanti suami pulang bekerja seharian. Saya selalu hapal cara dia mengerem kendaraannya di depan pintu pagar, saya bisa menebak kalau itu dia dari suara mesin mobilnya yang dilepas gasnya secara tiba-tiba dan saya selalu bisa menebak kedatangannya dari suara langkah kakinya yang diseret  melewati koridor flat kami yang mungil di Jakarta. Dia selalu pulang tergesa-gesa, tak pernah sabar ingin sampai ke rumah, tak pernah betah di luar.

 

IMG_0184
Menjelang ujian proposal thesis, 2016

Tahun ini adalah tahun ke-enam saya total menjadi jobless housewife, meskipun dalam perjalanannya saya tetap (kadang sih) menghasilkan sedikit uang untuk kami hidup. Saya mencoba segala jenis bisnis, sayangnya karna tidak dijalankan secara konsisten ; bisnis yang saya jalani pun kesannya maju mundur cantik hakhakhak…

Saya lulusan magister ilmu hukum dari sebuah kampus swasta yang cukup ternama di Bandung, tak cumlaude memang tapi saya lulus dengan nilai yang memuaskan. Kelulusan ini menjadi pencapaian tertinggi saya sebagai pelajar di usia yang ke 30 tahun. Udah tua banget ya? hahahaa… Semoga masih diberi rejeki dan kesempatan untuk sekolah lagi. aamiin!

Banyak yang menyayangkan, seorang lulusan S2 seperti saya hanya berakhir di rumah sebagai ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan ; termasuk kedua orang tua saya, dan kedua orang tua suami saya. But how can i say? i really love being a housewife!

Being a jobless housewife for 6 years and still counting!

Saya juga kadang tak percaya, “hah, bisa ya kamu Na diam di rumah?” hahaha… “kamu kan bukan type anak rumahan dari orok bo”. Dulu, jaman masih bau kencur hahaha… saya kekeuh pengen jadi wanita karir beken buahahaha.

 

DSC01561

Laki laki yang menikahi saya tidak lebih keras dari watak saya, tidak lebih galak pula dari saya (ho oh saya galak abis cyn). Tapi entah kenapa saya mau-maunya nurut ketika dia minta saya nunggu dia aja di rumah, tak perlulah saya repot-repot bantuin dia nyari duit. hahahahaha

So far saya senang, saya bahagia dan saya tidak pernah sedikitpun menyeseli keputusan saya untuk total mendampingi suami ; menjadikannya wadah bagi saya untuk memilih pintu surga manapun yang saya inginkan untuk saya ketuk.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.”
(HR Bukhari Muslim)

Saya selalu yakin bahwa Tuhan adalah sebaik-baik penentu kehidupan, Tuhan bekerja dengan sangat sempurna dan tidak pernah salah. Dan saya selalu bersyukur untuk semua ini! once again, i really love being a housewife.

6-Reasons-Why-Youre-Not-Doing-What-Actually-Makes-You-Happy

Untuk ibu ibu yang sama sama berjuang di jalan Allah dari rumah, mari kita sama sama berdoa semoga kita selalu istiqomah merawat rumah tangga kita sampai akhirat, semoga Allah selalu melindungi rumah tangga kita dari orang orang yang berniat jahat. *shakehand*