Taman Kota Babakan Siliwangi Bandung.

Taman Kota Babakan Siliwangi (biasanya disingkat Baksil) adalah hutan kota yang merupakan ruang terbuka hijau yang terletak di tengah kota Bandung.  Ruang terbuka hijau ini mampu menghasilkan oksigen dan pemandangan yang indah dengan deretan pohon pohon yang bisa dijadikan tempat aktifitas atau refreshing bagi keluarga.

Lanjutan pembangunan jalur pedestrian ini yang semula hanya 600 m diperpanjang menjadi 2,3 km pada bulan September 2017 kemarin dan menelan biaya sebesar Rp 11 M.

DSC08039

Taman Kota yang sekaligus sebagai Ruang Terbuka Hijau di Bandung ini berlokasi di Jalan Siliwangi No 7 Lebak Siliwangi, Coblong, Kota Bandung Jawa Barat Indonesia, sebuah tempat yang berada di kawasan jalan Taman Sari.

DSC08044

Forest Walk ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana udara yang bersih di kota Bandung. Lagipula, tidak dikenakan biaya sama sekali untuk menikmati tempat ini, cukup bayar parkir dan beli minum kalau haus. hehehe…

DSC08034DSC08030DSC07993DSC07973DSC08008DSC07968DSC07991

Selain sebagai jalur pedestrian dengan panjang kurang lebih 2,3 km, forest walk ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk foto foto. Banyak yang bawa kamera gede-gede kesini. hehhee… oh iya, tempat ini juga sekarang jadi tempat hunian bagi beberapa ekor tupai, kalau beruntung kalian akan ketemu dengan tupai yang meloncat lincah diantara pohon-pohon.

Orchid Forest Lembang

Setelah 2 bulan yang rasanya seperti bertahun tahun tak ke Bandung, akhirnyaa… bulan ini suami bolos kerja lagi sehari demi nemenin saya ke Bandung hahaha… *a day off wont hurt* 

Kali ini kita mengunjungi Orchid Forest Cikole di Lembang gara-gara liat foto ponakan yang beberapa hari yang lalu gathering di sana sama ibu-ibu komplek heu. Berangkat ke Bandung kali ini memang sengaja buat liburan pendek gara-gara dua bulan ini suami sibuk transfer knowledge di kantor yang ditinggalkan dan agak sedikit riweuh beradaptasi sama kantor lama yang langsung live di klien.

Jam 7 pagi kita sudah berangkat ke Lembang demi menghindari macet, dan benar saja beberapa meter sebelum Farm House, kendaraan sudah mengantri panjang.

Kurang dari pukul 10, saya dan suami sudah tiba di Orchid Forest yang ternyata letaknya pas di samping Grafika Cikole. Jarak dari jalan utama ke Orchid Forest ini kira-kira kurang lebih 700 m dan dibagi dengan beberapa gate entry. Tarifnya sendiri saya rasa agak sedikit mahal dengan fasilitas yang belum begitu banyak, 30 ribu / orang dan parkir 5rb untuk kendaraan roda 4.

DSC08162

Orchid Forest ini berada di lahan 14 hektar yang ditumbuhi oleh hutan pinus dan terdapat koleksi 157 anggrek langka dari seluruh dunia. Pengunjung bisa belajar budidaya Anggrek sekaligus membeli anggrek di tempat ini.

DSC08174IMG20180128105721IMG20180128105436IMG20180128105323

Pengunjung bisa kemping di area camping ground dengan biaya Rp.450 ribu dengan kapasitas tenda untuk 4 orang. Sedangkan tenda dengan kapasitas 9 orang di kenakan biaya Rp.950 ribu permalamnya sudah termasuk fasilitas breakfast, api unggun dan jagung bakar.

IMG20180128110804

Selain itu banyak spot foto yang menarik dan instagramable bagi pengunjung yang aktif banget di social media ahahhaha… oh iya, untuk keperluan pemotretan produk atau prewedding, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp.500rb hihihi… mahal ya cyn?

Tak perlu khawatir ketika kelaparan, apalagi cuaca dingin di tempat ini memang lebih mudah menstimulasi rasa lapar dibanding rasa kangen #eh, pengunjung bisa memilih mau makan di kantin atau di cafe ; keduanya menyediakan makanan dan minuman yang beraneka ragam , yang dijamin bisa menghangatkan badan yang kesepian err maksudnya kedinginan -__-‘

IMG20180128111342

Ternyata, 30ribu itu belum termasuk jembatan gantung ini hahah… jadi untuk berfoto di jembatan gantung, pengunjung diwajibkan membayar sebesar Rp15rb dan gratis naik flying fox. Halaahh… kirainnn hahahhaa… padahal spot foto paling kece tuh di jembatan ini.

IMG20180128111614

Di hari kami datang, cuaca sedang mendung dan angin berhembus kencang, beberapa jam kemudian hujan turun deras. Agak sulit mendapat gambar dengan pencahayaan yang cukup. Selain karna areanya luas, jalannya juga agak naik turun ; jadi disarankan untuk menggunakan alas kaki yang nyaman untuk jalan.

DSC08244DSC08177DSC08205

Orchid Forest yang letaknya di Jl. Tangkuban Perahu Cikole Lembang Kabupaten Bandung Barat ini buka dari pukul 08:00-17:00 WIB.

Menjelang 10 Tahun pasca tsunami Pangandaran.

Tulisan ini mungkin tulisan yang super duper late post, dikarenakan selama ini saya hanya fokus pada social media bernama Instagram dan Path (yang akhirnya dinonaktifkan) dan saya pun baru memikirkan untuk memulai nulis blog ini di awal tahun 2017 kemarin hahhaa.. telat gaul banget ya saya?

Yak, hari ini terjadi gempa di Lebak Banten dengan magnitudo 5,1 SR dengan kedalaman 42 km yang di waktu yang sama sehari sebelumnya (kemarin) sudah terjadi gempa di lokasi yang sama pula dengan magnitudo yang lebih besar yaitu 6,1 SR di kedalaman 10Km. Gempa kemarin sampai bikin saya yang  sedang tidur di flat kami di lt.12 (aktualnya lantai 14) berlari setengah sadar dengan menggunakan pakaian seadanya meninggalkan gedung lewat tangga darurat. Kebayang kan turun dari lantai 14 menuju lantai 1 lewat tangga? ahahha… hari ini kaki saya baru berasa pegalnya.

Meskipun menurut BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami tapi, bagi saya ; gempa kemarin sudah sangant meninggalkan trauma yang bikin saya hari ini memilih mandi lebih cepat dari biasanya. hahahha… takut dong ada gempa pas lagi bugil di kamar mandi.

Kembali ke Pangandaran, Tsunami Pangandaran yang terjadi pada bulan Juli 2006 silam tidak didahului gempa sama sekali. Jadi hampir tidak ada evakuasi sebelum tsunami ataupun peringatan sama sekali untuk menghindar. Tsunami ini menurut menurut data WHO telah merenggut 668 korban jiwa, 65 hilang dan 9rb lainnya luka-luka.  heum 2006 saya ada dimana ya? 2006 saya sibuk ngurusin pacar kayaknya hahhaa…

Jadi, kenapa nulis tentang Pangandaran hari ini, karna yaa itu… gara gara gempa yang bikin saya takut tidur siang, takut di kamar sendirian dan berakhir saya duduk di depan kolam renang sambil bawa laptop, ubek ubek album foto dan berusaha merangkai kata supaya enak dibaca (meskipun sebenarnya ga ada enak-enaknya ya?)

 

IMG_0704

 

Menjelang akhir tahun 2015, saya punya kesempatan berkunjung ke Pangandaran (yeay akhirnya). Kebetulan teman kuliah saya ada yang orang Pangandaran asli, yang tiap weekend berangkat ke Bandung cuma buat kuliah doang. Kali ini semua akomodasi bisa dihitung gratisan hahaha, maklum saya mahasiswi kere yang doyan banget jalan jalan dan foto-foto. Berangkat ke Pangandaran numpang mobil teman, nginap di rumah teman juga yang jarak dari rumah ke pantai barat Pangandaran cuma beberapa mil saja. Sambil jalan-jalan, teman saya cerita sedikit tentang tsunami yang menimpa Pangandaraan saat itu. Untungnya teman saya dan keluarganya masih selamat, Alhamdulillah. Terima kasih telah menyelamatkan teman saya ya Allah, saya nyaris tak bisa menginjakkan kaki di kota kelahiran bu Susi kalau bukan teman saya ini. hahahaa…

Jarak Pangandaran dari kota Bandung kalau menurut GPS sekitar 219km dengan jalur yang berkelok-kelok melewati beberapa kabupaten di Jawa Barat ; Bandung Timur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis. Kalau mau dihitung hitung sih kayaknya saya sudah hampir menginjakkan kaki di hampir semua bagian Jawa Barat, dibanding kota yang ada di Sulawesi Selatan.

Setibanya kami di Pangandaran, saya langsung diajak menyaksikan sunset di pinggir pantai, well meskipun sebenarnya di Sulawesi Selatan juga banyak pantai ; tapi bagi saya Pangandaran ini punya cerita sendiri. Cerita masa kecil bu Susi dan cerita tentang Tsunami.

Saya menyusuri pantai sambil mendengarkan cerita teman saya tentang Tsunami, pergaulan anak remaja sekitar dan well tentunya tentang sosok wanita terkenal yang asalnya dari kota ini ; Ibu Susi.  (Saya menyebut nama bu Susi di tulisan ini berapa kali ya?) hahhaa….

 

IMG_0989
Sunset di Pangandaran

 

IMG_0713
Tempat nongkrong anak gaul Pangandaran hahaha…

Capek jalan-jalan, rasa-rasanya pengen rebahan di kursi santai bean bag yang dijejer rapi menghadap ke pantai. Tak perlu memesan menu tertentu pada penyedia kursi sih sebenarnya untuk bisa menikmati bean bag yang nyaman ini ; hanya saja… yaa, masa iya duduk ga mesen apa apa bo’? Toh menu yang disediakan juga tidak begitu aneh-aneh, mungkin karna pengunjungnya memang jarang memesan menu yang aneh , but well minuman beralkohol sejenis bir bintang dijual bebas disini. It doesnt matter sih kalau buat saya hehehe…

IMG_0733
ini dia, teman saya yang selamat dari Tsunami. hiihihi…

Sambil duduk menyaksikan deru ombak dan matahari yang sebentar lagi menghilang dibalik awan, kita akhirnya memilih duduk di kursi bean bag yang kece ini. Sekilas kalau diperhatikan, cafe yang menyediakan kursi ini menciptakan nuansa Bali di oranamen cafenya, mungkin ownernya terinsipirasi oleh budaya Bali atau bisa jadi yang punya memang orang Bali hahaha… Jadi aja, foto ini rasa-rasanya seperti bukan di Pangandaran, tapi di Bali hahahah… eh padahal di Pangandaran. haha apalaaah….

IMG_0466
Pantai Timur Pangandaran, nah kalau yang ini Sunrise! Pants nya pakai batik pantai yang dijual di toko souvenir di Pangandaran.

Keesokan harinya saya diantar ke bagian timur pantai, khusus menyaksikan matahari terbit di pagi hari. Kami bergegas menuju arah yang berlawanan dengan pantai barat pagi pagi buta ; mengejar matahari yang menghiasi langit yang berubah menjadi pink di pagi hari. Tidak sia-sia, meskipun nyaris tidak dapat gambar sama sekali karna sibuk menikmati sendiri langit dan mataharinya yang indah. Pantai di sisi timur ini tidak kalah indahnya dibanding yang ada di barat. Di pinggir pantai tak ada cafe sama sekali, masih virgin, nyaris tak tersentuh apa apa kecuali susunan bebatuan yang menjadi pondasi untuk pelabuhan yang akan dibangun entah kapan. Konon, kata teman saya ; bagian pantai ini akan dibuat pelabuhan nantinya. Semoga saja!

IMG_0336
makan malam berkualitas.

Malam tiba, kami kembali ke pantai barat untuk mencari kulineran lainnya untuk santapan makan malam. Sebenarnya bukan makan malamnya yang penting, tapi spot fotonya yang lebih utama hahaha… Akhirnya kita memilih duduk di cafe yang bertemaram lampu remang-remang diatasnya. Laut tak lagi nampak, tapi deru ombak dan belaian angin yang berhembus dari arah pantai masih terasa hangat di pipi. aahh… i will never forget that feeling.

Menu makan malamnya sangat sederhana, tapi tempatnya luar biasa. Minumnya juga cuma milkshake (berharap bisa nyamber minuman meja sebelah hahahha) tapi yang duduk di depan saya sambil bercerita panjang lebar adalah wanita yang sama luar biasanya dengan kota ini. Soon, someday ; i’ll be back, Pangandaran!

Hello Kawazu, today is my Birthday

Yeay, it was the best birthday gift ever. Thank you my dear Husband… Tahun depan apa dong kadonya? wkwkwkw

Kawazu, kurang lebih 2.5 jam perjalanan menggunakan JR Rail dari stasiun Tokyo. Jauh sebelum berangkat ke Jepang, kami memang sudah merencanakan untuk mengunjungi tempat ini. Sebanarnya Februari pertengahan masih winter, tapi special untuk daerah Kawazu ini, Sakura bermekaran lebih awal di pertengahan bulan Februari.

Right after we walk out from the station… huaaa… kita langsung disambut pohon sakura yang semuanya sudah bermekaran.

Takjub dengan kebesaran Allah, MashaAllah… Alhamdulillah, terima kasi ya Allah. this is the best time of my life.

DSC01710
birthday girl hahaha…
DSC01698
padat sama wisatawan

DSC01717DSC01722DSC01713

Nah, Kawazu ini ternyata pesisir pantai. Sepanjang jalan menuju Kawazu dari Tokyo ; mata kami dimanjakan oleh pantai yang bersih dan salju yang masih tersisa di beberapa halaman rumah. Dari festival sakura, saya dan suami jalan menelusuri jembatan dan melewati beberapa pohon sakura yang masih pendek, memandangi burung bangau yang beterbangan di atas pantai dan menikmati desiran angin yang menambah dinginnya suasana winter. Nampak sangat cerah memang, tapi dinginnya bikin tangan enggan keluar dari saku. Sepulang dari Kawazu ini, kulit wajah saya merah dan kering banget.

DSC01733

Kansai Day 1

Kansai adalah istilah yang digunakan untuk menyebut wilayah Jepang di bagian barat Pulau Honshu yang terdiri dari 7 prefektur: Mie, Shiga, Kyoto, Osaka, Hyogo, Nara, dan Wakayama. Karna waktu kami terbatas maka kami hanya akan mengunjungi Kyoto, Kobe (Hyogo Prefecture) dan khatam di Osaka. Sebelum memulai petualangan kami mengelilingi beberapa kota, kami terlebih dahulu membeli Kansai Thru Pass untuk dua hari senilai 4.000 yen. Kartu ini adalah kartu yang mengcover seluruh train dan bus selama berada di area Kansai. Informasi lengkap tentang Kansai Thru Pass bisa kalian klik di sini .

Dari Osaka pagi itu kami langsung menuju Kyoto. Teman saya sengaja mengambil cuti selama 2 hari demi meluangkan waktunya untuk saya. ahhh… terima kasih banyak Ty.

 

DSC00720

 

DSC00725
Osaka, tampak terik memang tapi ini udaranya dingin banget.
DSC00752
Sambil nunggu keretanya datang kita cari minuman yang hangat dulu. Vanding machine ini menyediakan minuman hangat dan dingin. Salah satu favorite saya adalah van houten hot chocolate.
DSC00815
keretanya mirip KRL kalau di Jakarta, tapi tentu ini lebih bagus dan lebih bersih. Kita tidak diperbolehkan makan, minum, ribut ataupun menerima telp di dalam kereta.
DSC00784
Orang Jepang memang terbiasa tertib dalam segala hal, bisa dilihat meraka antri dalam satu baris dan mendahulukan yang turun terlebih dahulu sebelum meraka masuk ke dalam gerbng kereta. *salah satu peron di Osaka*
DSC00837
Yeay… finally setelah beberapa puluh menit dalam kereta, kita akhirnya sampai di Kyoto.
DSC00789
Railways

well, the best give you could ever give someone is your time. Because you’re giving them something that you’ll never get back. Terima kasih suami, terima kasih Tetty…

cerita lengkap tentang Kyoto bisa baca di Kyoto, Kansai Japan.

Hallo Japan!

Setelah Transit Hongkong dan transit Taipei akhirnya kami tiba di Jepang sekitar pukul 18:00. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 11 jam include transit 2 kali dan penerbangan dari Jakarta Hongkong 4 jam 50 menit, ke Taipei 1 jam dan dari Taipei ke Jepang selama 2 atau 3 jam (saya lupa-lupa ingat hehhee) tidak membuat kami kurang semangat. Sesaat setalah mendarat kami antri di Imigrasi Kansai Internationla Airport yang konon katanya sangat ketat menyeleksi wisatawan yang akan berkunjung ke Jepang. Saya sudah mempersiapkan tiket pulang, itinerary, bookingan hotel serta beberapa ribu yen di dompet, mengantisipasi pertanyaan pihak imigrasi yang katanya sering langsung mendeportasi orang Indonesia yang berkasnya tidak lengkap ketika ditanya. Konon ceritanya, pengunjung di usia produktif seperti kami kebanyakan dicurigai akan menjadi pekerja ilegal di Jepang dengan menggunakan visa turis sebagai akses masuk ke Jepang. That’s why setelah banyak kejadian penyalahgunaan visa tersebut, pihak imigrasi Jepang akhirnya lebih selektif dalam menerima pengunjung.

Syukur Alhamdulillah, berbekal berkas, doa dan senyum manis, kami akhirnya bisa melewati imigrasi tanpa hambatan dan tanpa satu kata pun yang terlontar dari petugas imigrasinya hehehe…

Setelah melewati imigrasi, ternyata travel bag kami sudah menunggu lebih dahulu. Travel bag sudah berjejer rapi persis setelah kami keluar dari antrian imigrasi. Setibanya di Kansai International Airport saya mengaktifkan wi fi (di terminal tersedia wi fi gratis) saya berusaha menghubungi teman saya yang sudah janji mau menjemput saat itu. Butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk akhirnya menemukan mereka, karena ternyata mereka tidak keluar dari terminal train menuju hall bandara.

DSC00775
Train Terminal

Setelah keluar dari Bandara dan setelah berkomunikasi dengan teman saya yang menjemput, saya dan suami menuju ke lantai atas (ada petunjuk untuk menuju ke terminal kereta di lantai 2) kebetulan waktu itu kami mendarat di terminal 1 kedatangan international. Udara dingin sudah terasa sangat menusuk sekeluarnya kami dari ruang terminal, angin berhembus cukup kencang sehingga udara yang begitu dingin sanggup menembus jaket dan kaos tangan.

Nah disini lah posisi teman saya menunggu waktu itu, mereka tidak keluar dari terminal supaya kartunya tidak kedebit ternyata alias mereka menjemput saya dengan gratis hahahhaha… tampak di depan sana mesin mesin pembelian tiket kereta dari Bandara menuju ke seluruh bagian Kansai.

DSC00735
Ticketing machine

Saya dan suami bolak balik dari posisi tempat diatas sampai ke depan mesin ini hanya untuk membeli tiket untuk masuk ke dalam peron kereta api hahahha. Kami berusaha memahami mesin dengan tulisan aneh ini demi sebuah tiket menuju ke Tennoji, apartemen teman saya. Rumitnya, kami tidak menemukan orang lain di depan mesin ini yang bisa membantu kami membeli tiket. Tips dari teman saya, kami cukup membeli tiket kemana saja alias cukup mengeluarkan tiket dengan tujuan mana saja dengan nilai paling rendah, setelah tiba di Statiun tujuan kita tinggal meng-adjust tiket sebelumnya dan memasukkan sejumlah uang senilai kekurangan yang seharusnya ditagihkan dengan jarak tempuk dari bandara ke tempat tujuan. Dari Bandara Kansai ke Tennoji waktu itu tarif keretanya kurang lebih 900 yen atau sekitar 100rban.

Tiba di Statiun KA Tennoji kami masih harus berjalan kaki sekitar kurang lebih 800 meter ke apartemen. Kami tiba di apartemen kurang lebih pukul 21;00 waktu setempat. Udara dingin begitu terasa, Osaka di bulan February tersebut memang sedang berada dalam suhu terendah sepanjang beberapa tahun terakhir.

DSC00712

 

Welcome to Osaka Anaa dan pak Kiki yippy!!!

 

 

DSC00704
Me and Tetty at Tennoji Osaka

HUKUM : PERINGATAN UNTUK J&T

902811_fec06800-bfe0-45c6-9c44-7ce928a2cb3b

Untuk dibaca oleh Mr. Jet Lee dan Tony Chen

Berikut langkah hukum “ketika barang yang dikirim tidak diterima ; hilang / cacat sebagian / keseluruhan!

Secara hukum, pengiriman barang oleh perusahaan ekspedisi (ekspeditur) atas permintaan dari si pengirim barang untuk mengirimkan suatu barang tertentu agar disampaikan kepada si penerima barang dapat dikualifikasikan sebagai Suatu Perjanjian Pengangkutan. Aturan dan dasar hukum dari Perjanjian Pengangkutan ini dapat Anda temukan di Pasal 1601 a, Pasal 1601 b dan Pasal 1617 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”) dan Pasal 86-97 dan Pasal 466-517c Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (“KUH Dagang”)
.
HMN Purwosutjipto, S.H. dalam bukunya Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia telah mendefinisikan Perjanjian Pengangkutan sebagai suatu perjanjian timbal-balik antara pengangkut dengan pengirim dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari satu tempat ke tempat tertentu dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.
.
Tidak menyampaikan paket barang tersebut sesuai waktu yang diperjanjikan dalam Bukti Tanda Terima Pengiriman Barang, dapat dikualifikasikan sebagai perbuatan ingkar/cidera janji atau yang dikenal dengan istilah wanprestasi.
.
Adapun pengertian wanprestasi menurut para sarjana yang dikutip oleh J. Satrio dalam bukunya Wanprestasi Menurut KUH Perdata, Doktrin dan Yurisprudensi, terbitan PT Citra Aditya Bakti (2012), halaman 3, adalah sebagai berikut:

“Wanprestasi adalah suatu peristiwa atau keadaan, dimana debitur tidak telah memenuhi kewajiban prestasi perikatannya dengan baik, dan debitur punya unsur salah atasnya.”
.
Mengutip pendapat Subekti dalam bukunya Hukum Perjanjian, penerbit PT Intermasa, halaman 45, yang berpendapat bahwa wanprestasi (kelalaian/kealpaan) seorang debitur dapat berupa:
a.Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya.
b.Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan.
c.Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat.
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.
.
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen memberikan pengaturan yang umum mengenai tidak menepati janji atas suatu pelayanan (misalnya dalam Pasal 16 UU Perlindungan Konsumen). Untuk itu, kita perlu kembali ke aturan Pengangkutan, khususnya dalam Pasal 468 dan Pasal 477 KUH Dagang, yang memberikan pengaturan sebagai berikut:

Pasal 468 KUH Dagang:
Perjanjian pengangkutan menjanjikan pengangkut untuk menjaga keselamatan barang yang harus diangkut dari saat penerimaan sampai saat penyerahannya.
Pengangkut harus mengganti kerugian karena tidak menyerahkan seluruh atau sebagian barangnya atau karena ada kerusakan, kecuali bila Ia membuktikan bahwa tidak diserahkannya barang itu seluruhnya atau sebagian atau kerusakannya itu adalah akibat suatu kejadian yang selayaknya tidak dapat dicegah atau dihindarinya, akibat sifatnya, keadaannya atau suatu cacat barangnya sendiri atau akibat kesalahan pengirim.
Ia bertanggung jawab atas tindakan orang yang dipekerjakannya, dan terhadap benda yang digunakannya dalam pengangkutan itu.

Pasal 477 KUH Dagang:
Pengangkut bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan oleh penyerahan barang yang terlambat, kecuali bila ia membuktikan, bahwa keterlambatan itu adalah akibat suatu kejadian yang selayaknya tidak dapat dicegah atau dihindarinya.
.
Berdasarkan hal-hal yang saya uraikan di atas, dalam hal tidak adanya keadaan memaksa/keadaan kahar (force majeur) yang menyebabkan Pihak penyedia jasa pengiriman barang tidak dapat melaksanakan kewajibannya (Vide: Pasal 1244-1245 KUH Perdata), maka pemilik barang mempunyai hak untuk menggugat ganti rugi (secara perdata) atas tidak atau belum dikirimkannya paket barang, dengan terlebih dahulu memperingatkan Perusahaan tersebut secara hukum melalui peringatan secara tertulis (somasi) sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1238 KUH Perdata (terjemahan R. Subekti), yang berbunyi:

“Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.”

Itinerary Liburan ke Bandung

Bandung adalah kota yang sering sekali dijadikan destinasi liburan oleh para turis lokal dan interlokal eh maksudnya international. Beberapa tahun belakangan ini sejak Bandara Husein SastraNegara yang semula hanya menjadi pangkalan angkatan udara akhirnya bisa dioperasikan menjadi terminal penumpang pesawat. Akses ini membuat pengunjung kota Bandung datang dari segala penjuru. Sebut saja Kuala Lumpur dan Singapore, dengan adanya penerbangan murah dari Air Asia, Bandung tentunya jadi destinasi yang lebih menyenangkan daripada harus datang ke Jakarta. Bandung yang adem, sentra bisnis fashion yang harganya terjangkau serta wisata alam yang mengagumkan membuat orang-orang pasti lebih memilih langsung ke Bandung.

Itu baru yang international loh, belum lagi turis lokal yang datangnya berombongan lewat darat [bis]. Kebayang dong ya padatnya Bandung ketika musim liburan tiba, yakin deh bisa misuh-misuh di jalan saking macetnya.

Nah berikut ini saya akan menulis itinerary kalau ingin menghemat waktu dan biaya berlibur ke Bandung. Itinerary ini saya maksudkan untuk teman-teman yang ingin berkunjung ke Bandung tapi tidak memiliki waktu yang banyak serta bisa menikmati keseluruhan objek yang disediakan oleh kota Bandung.

Kita mulai dari wisata alam di Lembang di hari pertama, hari kedua shopping dan hari ketiga wisata alam Ciwidey. Kenapa wisata alam Lembang tidak digabungkan di hari yang sama dengan Ciwidey? karna Lembang dan Ciwidey berada di daerah yang berlawanan arah. Lembang ke Utara dan Ciwidey ke arah Selatan.

Hari Pertama : Explore Lembang

Ketika kalian akan berkunjung ke Lembang, pastikan kalian berangkat lebih pagi, kalau bisa sih sebelum matahari terbit supaya tidak terjebak macet [apalagi pas weekend]. Pastikan kendaraan kalian fit dan full tank. Di Lembang sih ada pomp bensin, tapi tidak ada salahnya jaga-jaga, mengingat jalan menuju lembang dominan tanjakan.

  1. Farm House
  2. Tahu Susu Lembang Tauhid
  3. Floating Market
  4. d’Ranch
  5. Lodge Maribaya
  6. Grafika Cikole
  7. Tangkuban Perahu
  8. Permandian Air Panas Sari Ater

List diatas saya susun berdasarkan yang lebih dulu dijangkau ketika kalian datangnya dari Kota Bandung melewati Jl. Setiabudi- Ledeng – Lembang. Berbeda lagi apabila kalian mengambil jalan alternative melewati Sersan Bajuri – Parongpong – Lembang.

Apabila kalian mengambil rute perjalanan Sersan Bajuri – Parongpong – Lembang, maka kalian berkesempatan mampir Kampung Gajah lalu mampir di Dusun Bambu dan melanjutkan perjalanan ke Lembang dengan destinasi yang telah saya sebutkan di atas. Kalau kalian beruntung [tidak macet maksudnya] kalian bisa menyelesaikan tour tersebut diatas dalam sehari dengan manajemen waktu yang tentunya harus sangat ketat. Kalian pun masih bisa menghabiskan malam hari di Permandian Air Panas Sari Ater di daerah Subang.

Hari Ke-2 : Shopping dan Makan Malam

Kayaknya tidak afdol banget ya ke Bandung tanpa belanja-belanja, masa iya Factory Outlet yang menjual barang-barang branded gitu dianggurin. hahhhaa…

Destinasi Belanja di Kota Bandung

  1. Pasar Baru
  2. Kota Kembang [ini letaknya agak tersembunyi, di dekat alun-alun. Menjual tas dengan harga yang sangat murah]
  3. Factory Outlet di sepanjang Jl. Riau [Heritage dkk]
  4. Factory Outlet di Jalan SetiaBudi [Rumah mode dkk]
  5. Distro di Jl. Sultan Agung
  6. Factory Outlet di sepanjang Jl. Ir. H. Juanda [Dago]

Hari kedua ini, setelah selesai berbelanja, kalian bisa makan malam di puncak Dago. Kalian bisa memilih sesuai kelas yang kalian inginkan. Kalau mau makan kenyang dengan harga yang sangat terjangkau, kalian bisa makan malam di Punclut. Kalau kalian ingin makan malam romantis, suasana yang nyaman, dengan musik mengalun indah, tentunya dengan harga yang sedikit diatas “terjangkau”; kalian bisa berkunjung ke cafe-cafe di bilangan Dago Atas. Kalian bisa makan malam di Valley, ChocoRico, Lisung, Meatbar In The Sky atau mau sekalian yang lebih jauh sedikit ke Congo.

Hari Ke-3 : Explore Ciwidey

Tetep ya, kalau mau ke tempat wisata harus curi start lebih pagi. Soalnya perjalanan yang jaraknya hanya kurang dari 30 km dari kota Bandung ini sangat tidak bisa diprediksi. Kalau lagi beruntung sih, bisa sampai tujuan kurang dari 2 jam, tapi kalau lagi padat… yaaa… sorry to say!

Objek wisata yang bisa kalian kunjungi di Ciwidey yang paling utama adalah Kawah Putih. Ingat film Heart? yang diperankan oleh Acha Septriasa dan Irwansyah? Nah lokasi Syutingnya disini. Jadi kalian wajib foto-foto di tempat ini. Setelah berkunjung ke Kawah Putih, lanjutkan perjalanan kalian menuju Situ Patenggang. Sebelum sampai ke Situ [danau] Patenggang, kalian akan melewati permandian air panas Ciwalini. Kalau mau mampir sih silahkan aja…

Nah yang sekarang lagi hits banget di daerah Rancabali adalah Glamping Lake Side Ramcabali. Supaya instagram kalian jadi kekinian, maka berkunjunglah ke tempat tersebut.

Di hari ke-3 ini kalian bisa kembali ke daerah masing-masing di malam hari. Dengan itinerary yang seperti ini kalian bisa menghemat waktu dengan singkat. Pun kalian masih punya waktu yang lebih, jangan lewatkan wisata kuliner di dalam kota Bandung yang dijamin tidak akan mengecewakan.

Sesuai hasil survey saya [halah] berikut tempat yang wajib bagi kalian yang senang kulineran [silahkan digoggling ya alamatnya, pake maps]

  1. Nasi Bancakan [dekat gedung sate]
  2. Roti Gempol
  3. Bebek Ali Borromeus [bukanya jam 5 sore]
  4. Javan Steak di Jl. Sulanjana
  5. Warung lesehan sepanjang Jl. Punclut
  6. HDL Cilaki
  7. RM Taliwang Bersaudara di Cilaki
  8. Bakso Malang Mandep depan Pusdai
  9. Alas Daun
  10. Yogurt Cisangkuy

Segini cukup ya? untuk detail tiap tempat yang saya tulis diatas, saya tulis secara terpisah nantinya [inshaallah kalau punya ide dan waktu luang]. Saran saya sih kalau memang berniat berkunjung ke Bandung dengan nyaman, datanglah di saat yang tepat alias bukan pada saat holiday season. Bandung, pada saat high season; bahkan untuk parkir mobil aja harus waiting list, apalagi untuk dapatkan tempat duduk di rumah makan.

So… Welcome to Bandung. Kota yang diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.

Apalah Arti Sebuah Nama!

Nama saya Adriana, yaaa… bukan hampir sama lagi sama nama model terkenal Adriana Lima, tapi sama persis. Hanya beda nama belakangnya aja. Well, nama boleh sama ya tapi nasib dan takdir berbeda hehehe…

Tidak jarang orang yang membaca nama saya yang belakanganya ditambahkan nama bapak saya Ali, menganggap saya adalah seorang laki-laki. Bahkan waktu jaman kuliah sekalipun, dosen saya mengira makalah yang dia baca adalah makalah yang dibuat oleh seorang laki-laki. Apalagi bagi suku Sunda, Adriana memang cenderung diperuntukkan bagi kaum pria. hihiihih..

Sebenarnya bukan itu inti dari tulisan ini. Yang ingin saya sampaikan disini adalah, bagaimana merepotkannya memiliki nama dengan hanya terdiri dari dua suku kata. *fiuh*

Karna akan berangkat ke Jepang bulan Februari mendatang dan sekaligus ingin umroh sebulan setelahnya, maka saya dan suami membuat passpor terlebih dahulu sebagai syarat untuk bisa melenggang cantik ke luar negeri. Proses pembuatan passpor berjalan lancar, bahkan kami jadi tamu paling istimewa di kantor imigrasi Depok waktu itu. Pengisian formulir kami lakukan di ruang terpisah, tanpa mengantri dan diberi minuman.

Nah, lalu drama dimulai. Karna saya orangnya tidak bisa sabar, saya membeli tiket ke Jepang dengan modal nomor passpor yang dikirim oleh pejabat imigrasi [sahabat pak Suami] tanpa melihat dan mengecek dengan pasti nama yang mana yang harusnya saya cantumkan di nama penumpang. Saya meng-issued tiket penerbangan Cathya Pasific PP Jakarta – Osaka pada saat itu juga. Lancar! Ticket Issued. Harganya? Jangan ditanya, karna kita memang sudah kehabisan tiket promo Air Asia, yang semula masih kurang dari 4 juta untuk tiket PP. Kami memang agak susah mengejar tiket promo, karna kami tidak bisa menentukan jauh-jauh hari, waktu kosong yang mana yang bisa kami pakai untuk berlibur. Jadwal kerja Pak Suami suka kadang-kadang mendadak padat, suka tiba-tiba ada proyek di luar kantor yang sifatnya sangat urgent. Jadi pembelian tiket maksimal bisa kami lakukan sebulan sebelum berangkat, itupun dengan mengatur jadwal Pak Suami sedemikan rupa, menggenjot pekerjaan yang sekiranya tidak akan tersentuh sama sekali selama seminggu kita berlibur.

Beberapa hari setelah ticket kami issued, datanglah kekhawatiran yang membuat saya pada akhirnya menyerah pada keteledoran saya sendiri. Tiket yang telah saya issued dengan menggunakan tiga suku kata, dimana penamaan tiga suku kata ini memang tercantum di halaman 4 bagian endorsement passpor saya, akhirnya harus saya ubah menjadi 2 suku kata sesuai yang tertera di halaman depan passpor. Setelah bertanya ke pihak Traveloka dan berkunjung ke kantor Cathay Pasific di Gedung IDX Sudirman, ternyata saya diharuskan membayar biaya penggantian dokumen senilai idr.715.000.

whatsapp-image-2017-01-17-at-14-31-00
Kantor Cathay Pasific di Gedung IDX Tower 1 Lt. 18 SCBD Sudirman

Kenapa saya harus ganti dokumen? Kalau kata pihak Cathay Pasific-nya, pihak maskapai mungkin tidak akan mempermasalahkan hal tersebut, toh nama di tiket memang tercantum di halaman 4, akan tetapi ini akan menjadi masalah nantinya di pengecekan imigrasi kalau visa yang diterbitkan adalah visa dengan nama yang terdiri dari 2 suku kata. Mengingat kembali insiden-insiden turis Indonesia ke Jepang banyak yang dideportasi langsung bahkan sebelum sempat menginjakkan kaki di luar Airport dan birokrasi di imigrasi bandara Jepang yang katanya memang lumayan ketat, jadilah tidak ada pilihan lain selain harus membayar nilai yang besar tersebut untuk mengganti nama saya di tiket.

passpor
Belum E-Passpor, tapi segini juga udah lumayan

Pelajaran yang sangat berharga yang bisa saya ambil dalam kejadian ini adalah ; bersabar. i’m too excited dan terlalu takut tiket harga tiketnya akan jadi mahal kalau saya tidak membeli pada saat itu juga. huhuhuhu… padahal sampai hari ini pun harga tiketnya masih sama. Daaannn.. besok-besok kalau punya anak, mending dari awal ngasih nama dengan 3 suku kata atau lebih supaya belakangan tidak repot harus mengurus ini itu. hihihihi…

Suami sih tidak marah setelah saya menyampaikan berita dukanya [hahaha ini beneran saya sampai nangis], beliau cuma berpesan : ini pelajaran ya, besok-besok harus lebih sabar dan teliti. Tapi tetep, saya sebagai istri yang hampir tidak pernah kena omelan suami, giliran bikin kesalahan kecil aja bisa jadi drama yang berkepanjangan. Sampai-sampai suami heran kenapa saya harus nangis, padahal beliau sendiri marah juga enggak. hahaaha…

Well, Intinya… besok-besok kalau mau beli tiket international pastikan dulu nama passpor sebelum membeli tiket. Untuk Haji atau Umroh, memang memerlukan nama dengan 3 suku kata, tapi untuk beberapa negara ; nama di tiket harus sama persis dengan nama yang tertera di halaman depan passpor. Cukup saya saja yang mengalami kejadian seperti ini, semoga kalian tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti saya.