Javan Steak ; kuliner Bandung yang tak terkikis jaman

Entah sejak kapan Steak ini hadir di kota Bandung, tapi katanya dulu warung steak ini awalnya cuma pakai gerobak di depan Apotek Kimia Farma Dago. Saya dan suami juga baru menemukan tempat ini di tahun 2009, di awal-awal kami pacaran hehehhe…

Tempatnya juga rada-rada nyempil dan terkesan invisible, mungkin karna warung ini hanya menyewa satu lorong yang bisa disebut garasi dari bangunan cafe di sebelahnya. Meskipun begitu, tempat ini tidak pernah sepi oleh pengunjung, kadang kala kami harus antri terlebih dahulu untuk mendapatkan tempat duduk ; belum lagi antri untuk mendapatkan pesanan yang kami inginkan. So, disarankan untuk meluangkan waktu yang lebih kalau mau makan disini. Javan Steak hanya buka dari pukul 05:00 sore yaa…

DSC08145

Apapun makanannya minumnya pasti teh manis, hahah… sunda pisan pokokna mah. Tiap kali kami kesini, saya dan suami kalau ga mesen Mexican ya Jager ; jarang digonta ganti.

DSC08146DSC08157

Side Dish nya bisa dipilih antara kentang goreng atau spaghetty, tapi kalau saya sih tetep lebih milih kentang goreng.

 

Ekpektasi kalian jangan terlalu tinggi ketika kesini, warung ini memang hanya warung makan biasa, rasa steaknya juga standar, tapi dijamin kalian akan kangen lagi untuk balik kesini ; selain karna harganya murah, rasanya juga tidak terlalu mengecewakan. Untuk kuliner, tempat ini adalah salah satu yang wajib saya kunjungi ketika berkunjung ke Bandung.

DSC08141

Javan Steak, Jl Sulanjana No 9 Bandung buka setiap hari dari pukul 05:00 Sore.

Getting closer to the exit gate ; Jakarta!

Kata orang-orang Jakarta itu kejam, lebih kejam dari ibu tiri. Kata teman saya, dr. Supriyanto ; Jakarta itu keras bagi orang kecil. Lain pula kata supir taxi online yang mengantar saya dan suami sepulang kami nonton di Gandaria City di suatu malam di bulan April ; Jakarta bagaikan jebakan tikus bagi orang-orang yang tak punya modal datang ke Jakarta. heum…

Beberapa teman suami yang dulunya memilih lebih dulu bekerja di Jakarta, sekarang sudah kembali ke kota masing-masing ; ke Bandung, Muara Enim, Sukabumi, Bogor dan Makassar. Mungkin mereka tak menyerah, mereka hanya lelah atau mungkin mereka sudah memiliki pilihan yang lebih baik daripada hidup menghabiskan masa mudanya di Jakarta. Mungkin…

Tidak bisa dipungkiri memang, Jakarta ini sumpek, bising, panas dan yaa… Jakarta adalah kota yang merenggut waktu penghuninya setiap hari. Semacam Dementor pada serial Harry Potter ; perenggut kebahagiaan!

Tapi bagi kami, Jakarta adalah tempat yang membuat kami lebih dekat dengan pintu keluar. Entah kenapa, saya selalu terobsesi untuk sekedar menetap di negara lain walau  hanya untuk beberapa tahun. Untuk sekolah ataupun bekerja, tak masalah… yang penting bisa meninggalkan negara ini sesaat saja. Meskipun tahun kemarin, kami hanya diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa negara ; bagi kami hal tersebut merupakan awal yang baik, paling tidak, kami sudah benar-benar melangkahkan kaki keluar dari negara ini, sejenak!

IMG_20171206_175632_168
Pemandangan Jakarta dari Satrio Tower Building lt. 24 di sore hari.

Saya dan suami tidak pernah punya impian apalagi merencanakan suatu hari akan pindah ke Jakarta. Bagi kami, Bandung adalah surga. Bagi kami hidup di Bandung itu cukup!

Tapi bukankah kata Albert Einstein “to keep your balance, you must keep moving“?

Di awal 2016, kami memutuskan pindah ke Jakarta ; meninggalkan semua kenyamanan yang disuguhkan Bandung kepada kami. Moving out from the comfort zone. Kami paham betul bahwa, berdiam lebih lama di titik nyaman tidak akan membuat hidup kami lebih baik.  Bukan hanya itu, mungkin kami harus pergi sejenak supaya bisa merindukan Bandung untuk sesaat, untuk lebih memberi penghargaan yang lebih kepada Bandung. well… you’ll never know how precious it is, until you lose or you leave it , right?

IMG_20171222_073308_850
Pelangi di langit Jakarta, dari Balkon Apartemen kami di Cengkareng.

Satu pagi di bulan Maret 2016, suami berangkat ke Jakarta menggunakan mobil box yang sebelumnya sudah diisi beberapa perabot dari rumah kami di Bandung ; beberapa perabot yang sekiranya bisa kami gunakan di Jakarta kelak. Buku-buku, tv, kulkas dan semua pakaian kami. Rumah sengaja dikosongkan untuk penghuni baru yang akan menyewa rumah mungil kami sedangkan kendaraan yang biasa kami gunakan belum kami kirim kembali dari Makassar selepas digunakan untuk urusan kerja suami pada proyek pengadaan software di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah.

Saya melepas suami berangkat dengan perasaan yang campur aduk : sedih, sepi, bahagia, terharu, iba dan rindu. *nulis ini sambil berkaca kaca hiks* Baru kali ini suami berangkat lebih jauh tanpa menggunakan moda transportasi yang lebih nyaman. Jarak Jakarta – Bandung kira kira kurang lebih 200km dan ditempuh sekurang-kurangnya 2 jam 45 menit dalam keadaan ramai lancar. Saya sedih membayangkan bagaimana rasanya suami duduk di kursi mobil yang joknya pun nyaris tak empuk dan tak bisa direbahkan ; melelahkan pasti!

Tahun ini, akan menjadi tahun ke dua kami di Jakarta. Jakarta yang bagi sebagian orang adalah representasi kota yang tak ramah, tumbuh dengan angkuh dan penuh dengan manusia-manusia yang individualistis. Separuh orang pun berasumsi bahwa, ketika seorang mampu bertahan hidup di Jakarta maka bisa dikatakan seseorang tersebut sudah akan mampu bertahan hidup di beberapa negara di belahan bumi manapun. ahh… segitunya.

Jakarta, begitu banyak orang yang menggantungkan hidupnya di kota ini ; di tengah hingar bingar lampu temaram, di pinggir derasnya aliran sungai, di bawah langit yang kadang tak ramah, di antara sekumpulan tikus-tikus yang menjadikan mereka mangsa yang empuk untuk dihisap kebahagiaannya.

Waktu saat ini menunjukkan pukul 20:59 WIB dan suami belum tiba di rumah selepas bekerja, ngantor di klien untuk sementara waktu sampai batas waktu yang tidak bisa diprediksi ; di bilangan Senayan Jakarta Selatan sana. Kota ini kejam, hanya saja kota ini memberikan penghargaan yang tinggi bagi seorang IT Engineer macam suami saya. Dia menghabiskan waktu hampir 4 jam sehari di perjalanan menuju dan pulang kantor. Begitulah hidup, kadang memang waktu tak bisa jalan beriringan dengan uang meskipun ada pepatah yang mengatakan waktu adalah uang. Kita dipaksa memilih, antara uang dan waktu.

Jakarta, entah sampai kapan kami bertahan di kota ini tapi setidaknya kami tak selalu mengaggap kota ini kejam. Kami mengambil banyak manfaat dari kota ini, kami menimba banyak sekali ilmu dari tempat yang keras ini, kami menyemai rindu dan memupuk cinta yang besar satu sama lain, di sini ; di Jakarta.

 

 

 

 

Making memories ; Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey

Jalan-jalan kali ini judulnya ngasuh ponakan hehee… Hari Minggu, saya dan suami beserta 3 ponakan yang pada nyebelin semua (hahaha) subuh subuh udah berangkat ke Ciwidey tepatnya ke Rancabali (lebih jauh dari kawah putih pisan). Liat di Instagram tempat yang kekinian pisan ini, bikin kita ; anak dan ibu ibu jaman millenial ini gak kuat nahan napsu buat datang ke sini hahhaa…

Udah berangkat subuh pisan dari Bandung, eh masih kena macet juga di jalan gara gara banyak yang hajatan dan menggunakan separuh badan jalan untuk acara. Fiuhhh…

Lokasi Glamping Lakeside ini tepat ada di pinggir situ Patenggang, rutenya juga sama seperti ketika menuju ke Kawah Putih ; hanya saja letak Glamping ini memang lebih jauh sedikit dibanding Kawah Putih.

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.01

Karena kita datang pas weekend jadi tempat ini memang rada-rada padat sama pengujung, apalagi kita tibanya juga udah agak siang gara-gara kepegat macet di Kopo dan Soreang.

Fasilitas di tempat ini lumayan banyak, ada arena bermain untuk anak-anak dimana anak-anak bisa beraktifitas fisik dan memberi makan kelinci (Wortelnya dibeli ya, ga gratis). Restoran Phinisi yang menyediakan berbagai kuliner khas Sunda dan tentunya spot foto yang lumayan kece.

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.01 (1)

Glamping sebenarnya adalah singkatan dari Glamour Camping, yang maksudnya kemah-kemahan tapi rada-rada mewah ; bukan camping yang tiduran tanpa kasur dan tanpa wc pribadi untuk mandi atau camping dengan indomie sebagai makanan utamanya  hihihi…

Disediakan resort yang terletak tepat di pinggir Situ (danau) Pateggang ini yang bisa disewa dari 1jutaan sampai 2jutaan per malam. Tergantung dari type kamar dan waktunya. Untuk info lebih lanjut bisa meluncur ke Instagram Officialnya di @lakeside_glamping atau websitenya di sini

Tarif :

  1. Teras bintang Rp 20.000
  2. Taman kelinci Rp 15.000
  3. Taman angsa Rp 15.000
  4. Jembatan pinisi Rp 15.000
  5. Jembatan danau Rp 15.000
  6. Strawberry farm Rp 15.000
  7. Tea plantation Rp 15.000
  8. Patenggang lakeside Rp 20.000
  9. Batu cinta Rp 10.000
  10. Kawah rengganis Rp 20.000
  11. Mandi lumpur Rp 10.000
  12. Perahu Rp 25.000
  13. Kano Rp 20.000

Tiket terusan;

  • A. 1 sd 10 harga normal Rp 130.000, promo Rp 50.000
  • B. 1 sd 12 harga normal Rp 185.000, promo Rp 75.000
  • C. 1 sd 14 harga normal Rp 235.000, promo Rp 100.000

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.04 (1)

Mahal ya cyn? Ho oh… hahhaa… tapi worth it kok buat dicobain sesekali doang mah. Karna kita datangnya pagi dan tempatnya padat banget, jadi kita ga lama-lama. Aslinya, mending datang pas bukan weekend dan bukan musim liburan. Soalnya, kalau lagi padat gini, buat foto di jembatan menuju resto aja, antrinya minta ampun. Ada baiknya memang kita meluangkan waktu yang lebih untuk bisa menikmati tempat ini karna sebenarnya pemandangan malam dari resto Phinisi-nya lebih keren dengan lampu-lampu yang menghiasi jembatan yang membelah danau.

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.04

WhatsApp Image 2018-01-25 at 21.40.00

WhatsApp Image 2018-01-25 at 17.01.09

Rugi sih sebenarnya kalau cuma sebentar, karna selain bayarnya lumayan mahal, jarak yang ditempuh dari Bandung ke Rancabalijuga  lumayan jauh ; kurang lebih 58 km dengan waktu tempuh kurang dari 3 jam kalau sedang tidak macet. Salah satu ponakan saya sampai muntah muntah di jalan sebelum sampai ke tempat ini hahahaa…

 

Tafso Barn ; Menikmati sarapan di lereng gunung.

Saya dan suami adalah dua orang yang punya hobby sama ; jalan jalan, makan dan nonton! Kami berdua sepertinya bukan type manusia yang senang bekerja hehehhe… i am a jobless housewife and my husband is an engineer yang setiap dua minggu sekali menambah jatah liburnya satu hari ; entah dengan alasan apapun itu. Kadang dia ngambil a day off hanya sekedar nemenin saya main ludo di rumah.

Nah karna kita awalnya memang menetap di Bandung, jadi kayaknya di blog ini bakalan lebih banyak tulisan tentang Bandung dan sekitarnya dibanding kota lain.

Weekend tiba, yuhuy… itu artinya saya bisa minta jalan-jalan dari pagi sampai capek. Suatu Sabtu di bulan Desember (ecieee.. apa sih) kita memilih cari sarapan di area Punclut ; kebetulan dapat info dari Instagram kalau ada cafe baru yang tempatnya kece buat foto-foto.

Tafso Barn, Cafe ini letaknya di daerah Punclut Cieumbeleuit, tepatnya di Jl. Pagermaneuh. Melawati jalan yang menanjak di bilangan Dago pagi hari, suami memacu kendaraannya lebih kenceng, maklum tanjakan menuju ke tempat ini memang agak terjal, selain itu jalanan tidak cukup luas untuk dilewati dua buah kendaraan roda empat. Sebenarya jalan utama menuju ke tempat ini adalah dengan melewati Jl. Cieumbeleuit, tapi karna aksesnya lebih sempit , jadi kami selalu memilih lewat Dago yang tentu tanjakannya kurang lebih sama.

Melewati beberapa warung makan kaki lima yang berjejer rapi dan selalu ramai di malam hari, pagi itu saya dan suami tiba di Tafso Barn kurang dari satu jam. Jalur ini adalah jalur yang selalu macet di lewati kendaraan, selain karna memang daerah wisata ; jalur ini juga adalah jalur alternatif menuju ke Lembang. Jadi kenapa saya lebih memilih ke tempat ini di pagi hari, ya karna alasan teknis yang tadi ; Jalan sempit, macet dan nanjak. hehehehe…

Tafso Barn ini berdampingan dengan Lereng Anteng yang sudah lebih dulu eksis di bukit daerah Punclut, areal parkirannya pun menyatu ; sehingga kita bisa memilih cafe mana yang menurut kita lebih menarik untuk dikunjungi , karna sebenarnya pemandangannya pun tidak jauh beda ; nge view Bandung dari atas. Tentang Lereng Anteng sendiri akan saya tulis secara terpisah di postingan selanjutnya.

 

DSC04847

Kami tiba di Tafso Barn kurang dari jam 8 pagi, jadi tempatnya juga masih sepi, pegawainya baru datang satu-satu, meja masih separuh dirapikan dan tentunya belum open order. Tapi baiknya adalah, karna kita dibolehin masuk bahkan sebelum semua pegawainya datang hehehe…

DSC04860

Karna masih pagi dan masih kosong, jadi kita bebas foto-foto sesuka hati, bisa salto juga sekalian hahaha… Tidak ada gangguan sama sekali dari pengunjung, karna kita adalah pengunjung pertama yang sengaja datang lebih pagi buat foto-foto. hahaha…

DSC04899

DSC04935
Pegawainya masih pada briefing hahaha…
DSC04884
Masih sepi jadi bebas foto-foto

DSC04875DSC04918

Well, pictures speak louder than words kan ya? jadi udah bisa liat sendiri kan kalau tempat ini highly recommended untuk jadi list kalian yang ingin instagramnya makin kekinian hehehhe… Tidak perlu takut kehabisan tempat untuk duduk, karna tempat ini menyediakan banyak kursi indoor maupun outdoor. Makanan yang disajikan di sini ada Indonesian foodwestern food, dan Japenese food dengan range harga Rp 5000 s/d Rp 55.000.

Pemandangan malam hari tak kalah keren sebenarnya, hanya saja… akses menuju ke tempat ini kalau udah agak sore menjelang malam kadang suka macet parah. Jadi saya sarankan datanglah lebih pagi. Untuk sarapan yang berkualitas, dengan udara yang sejuk dan segar saya jamin weekend kalian akan lebih menyenangkan. oh iya Jangan lupa pesan hot chocolate, minuman favorite saya kalau berkunjung ke tempat ini. hehehhe…

 

Tafso Barn, Jl Pageurmaneuh No.1

Open Daily 09:00-23:00

Ig : @heytafso

Skywalk, Teras Cihampelas Bandung.

Berkunjung ke Bandung, tidak afdol rasanya kalau tidak menginjakkan kaki di jalan Cihampelas yang terkenal dengan dagangan pinggir jalan yang beraneka ragam. Dari pedagang asongan souvenir kaca kacaan, pedagang jeans, jaket kulit, hiasan dinding, baju kaos aneka rupa yang disablon dengan tulisan Bandung dengan beragam desain sampai pedagang cuanki yang dengan setia menanti pembeli yang enggan menghabiskan uangnya untuk sekedar mengisi perut di mall Cihampelas Walk.

Diresmikan Februari 2017 lalu oleh Walikota Bandung bapak Ridwan Kamil, Skywalk yang berdiri di atas jalan raya Cihampelas dengan panjang kurang lebih 450 meter ini menjadi salah satu tujuan wisata wajib bagi pengunjung kota Bandung. Jembatan ini adalah satu-satunya jembatan pedestrian di Indonesia dan kedua di dunia setelah New York. Keren kan Bandung teh?

Di Sepanjang jembatan ini terdapat pedagang kaki lima yang direlokasi oleh pemerintah kota Bandung, mereka adalah pedagang yang semula berjualan di trotoar sepanjang jalan Cihampelas. Terdapat hampir 200 pedagang kaki lima yang akhirnya ikut menambah daya tarik skywalk yang lebarnya kurang lebih 9 meter ini.

DSC02127DSC02136DSC02133DSC02126

DSC02121
Bandung rasa London ya?

 

DSC02118

Kota Bandung memang sangat menarik, apalagi ditambah cuaca yang suka sendu sendu aizawa #eh. Salah satu kota yang menjadi saksi hidup saya dan suami, salah satu kota tujuan kami untuk pulang setelah menjelajah dunia. hahahasik…

Well, kalau kalian berkunjung ke sini, pastikan tidak sedang hujan, karna di sepanjang jembatan pedestrian ini tidak disediakan tempat berteduh sama sekali. Tapi, kalau nyari kulineran murah dan duduk nyaman bersama pasangan, skywalk ini udah paling tepat tempatnya. Ada pedagang batagor, cuanki, jus, sosis, bakso dsb. Bukan cuma untuk yang lagi kasmaran, untuk keluarga yang ingin membawa anak yang mengidolakan beberapa tokoh kartun dan animasi, tempat ini cocok buat foto-foto yang dijamin istagramable banget. ( hahaha buibu korban sosmed).

DSC02149
Kalung dagangan harga 10rban hahaha
DSC02116
Salah satu bunga yang lagi mekar di Skywalk
DSC07234
Ditutup sama foto kami berdua!

Bandung, memang tidak pernah hanya sekedar perihal letak geografis, ini lebih tentang perasaan dan setiap peristiwa yang pernah kami lewati bersama di kota ini.

 

Menjelang 10 Tahun pasca tsunami Pangandaran.

Tulisan ini mungkin tulisan yang super duper late post, dikarenakan selama ini saya hanya fokus pada social media bernama Instagram dan Path (yang akhirnya dinonaktifkan) dan saya pun baru memikirkan untuk memulai nulis blog ini di awal tahun 2017 kemarin hahhaa.. telat gaul banget ya saya?

Yak, hari ini terjadi gempa di Lebak Banten dengan magnitudo 5,1 SR dengan kedalaman 42 km yang di waktu yang sama sehari sebelumnya (kemarin) sudah terjadi gempa di lokasi yang sama pula dengan magnitudo yang lebih besar yaitu 6,1 SR di kedalaman 10Km. Gempa kemarin sampai bikin saya yang  sedang tidur di flat kami di lt.12 (aktualnya lantai 14) berlari setengah sadar dengan menggunakan pakaian seadanya meninggalkan gedung lewat tangga darurat. Kebayang kan turun dari lantai 14 menuju lantai 1 lewat tangga? ahahha… hari ini kaki saya baru berasa pegalnya.

Meskipun menurut BMKG, gempa tersebut tidak berpotensi Tsunami tapi, bagi saya ; gempa kemarin sudah sangant meninggalkan trauma yang bikin saya hari ini memilih mandi lebih cepat dari biasanya. hahahha… takut dong ada gempa pas lagi bugil di kamar mandi.

Kembali ke Pangandaran, Tsunami Pangandaran yang terjadi pada bulan Juli 2006 silam tidak didahului gempa sama sekali. Jadi hampir tidak ada evakuasi sebelum tsunami ataupun peringatan sama sekali untuk menghindar. Tsunami ini menurut menurut data WHO telah merenggut 668 korban jiwa, 65 hilang dan 9rb lainnya luka-luka.  heum 2006 saya ada dimana ya? 2006 saya sibuk ngurusin pacar kayaknya hahhaa…

Jadi, kenapa nulis tentang Pangandaran hari ini, karna yaa itu… gara gara gempa yang bikin saya takut tidur siang, takut di kamar sendirian dan berakhir saya duduk di depan kolam renang sambil bawa laptop, ubek ubek album foto dan berusaha merangkai kata supaya enak dibaca (meskipun sebenarnya ga ada enak-enaknya ya?)

 

IMG_0704

 

Menjelang akhir tahun 2015, saya punya kesempatan berkunjung ke Pangandaran (yeay akhirnya). Kebetulan teman kuliah saya ada yang orang Pangandaran asli, yang tiap weekend berangkat ke Bandung cuma buat kuliah doang. Kali ini semua akomodasi bisa dihitung gratisan hahaha, maklum saya mahasiswi kere yang doyan banget jalan jalan dan foto-foto. Berangkat ke Pangandaran numpang mobil teman, nginap di rumah teman juga yang jarak dari rumah ke pantai barat Pangandaran cuma beberapa mil saja. Sambil jalan-jalan, teman saya cerita sedikit tentang tsunami yang menimpa Pangandaraan saat itu. Untungnya teman saya dan keluarganya masih selamat, Alhamdulillah. Terima kasih telah menyelamatkan teman saya ya Allah, saya nyaris tak bisa menginjakkan kaki di kota kelahiran bu Susi kalau bukan teman saya ini. hahahaa…

Jarak Pangandaran dari kota Bandung kalau menurut GPS sekitar 219km dengan jalur yang berkelok-kelok melewati beberapa kabupaten di Jawa Barat ; Bandung Timur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis. Kalau mau dihitung hitung sih kayaknya saya sudah hampir menginjakkan kaki di hampir semua bagian Jawa Barat, dibanding kota yang ada di Sulawesi Selatan.

Setibanya kami di Pangandaran, saya langsung diajak menyaksikan sunset di pinggir pantai, well meskipun sebenarnya di Sulawesi Selatan juga banyak pantai ; tapi bagi saya Pangandaran ini punya cerita sendiri. Cerita masa kecil bu Susi dan cerita tentang Tsunami.

Saya menyusuri pantai sambil mendengarkan cerita teman saya tentang Tsunami, pergaulan anak remaja sekitar dan well tentunya tentang sosok wanita terkenal yang asalnya dari kota ini ; Ibu Susi.  (Saya menyebut nama bu Susi di tulisan ini berapa kali ya?) hahhaa….

 

IMG_0989
Sunset di Pangandaran

 

IMG_0713
Tempat nongkrong anak gaul Pangandaran hahaha…

Capek jalan-jalan, rasa-rasanya pengen rebahan di kursi santai bean bag yang dijejer rapi menghadap ke pantai. Tak perlu memesan menu tertentu pada penyedia kursi sih sebenarnya untuk bisa menikmati bean bag yang nyaman ini ; hanya saja… yaa, masa iya duduk ga mesen apa apa bo’? Toh menu yang disediakan juga tidak begitu aneh-aneh, mungkin karna pengunjungnya memang jarang memesan menu yang aneh , but well minuman beralkohol sejenis bir bintang dijual bebas disini. It doesnt matter sih kalau buat saya hehehe…

IMG_0733
ini dia, teman saya yang selamat dari Tsunami. hiihihi…

Sambil duduk menyaksikan deru ombak dan matahari yang sebentar lagi menghilang dibalik awan, kita akhirnya memilih duduk di kursi bean bag yang kece ini. Sekilas kalau diperhatikan, cafe yang menyediakan kursi ini menciptakan nuansa Bali di oranamen cafenya, mungkin ownernya terinsipirasi oleh budaya Bali atau bisa jadi yang punya memang orang Bali hahaha… Jadi aja, foto ini rasa-rasanya seperti bukan di Pangandaran, tapi di Bali hahahah… eh padahal di Pangandaran. haha apalaaah….

IMG_0466
Pantai Timur Pangandaran, nah kalau yang ini Sunrise! Pants nya pakai batik pantai yang dijual di toko souvenir di Pangandaran.

Keesokan harinya saya diantar ke bagian timur pantai, khusus menyaksikan matahari terbit di pagi hari. Kami bergegas menuju arah yang berlawanan dengan pantai barat pagi pagi buta ; mengejar matahari yang menghiasi langit yang berubah menjadi pink di pagi hari. Tidak sia-sia, meskipun nyaris tidak dapat gambar sama sekali karna sibuk menikmati sendiri langit dan mataharinya yang indah. Pantai di sisi timur ini tidak kalah indahnya dibanding yang ada di barat. Di pinggir pantai tak ada cafe sama sekali, masih virgin, nyaris tak tersentuh apa apa kecuali susunan bebatuan yang menjadi pondasi untuk pelabuhan yang akan dibangun entah kapan. Konon, kata teman saya ; bagian pantai ini akan dibuat pelabuhan nantinya. Semoga saja!

IMG_0336
makan malam berkualitas.

Malam tiba, kami kembali ke pantai barat untuk mencari kulineran lainnya untuk santapan makan malam. Sebenarnya bukan makan malamnya yang penting, tapi spot fotonya yang lebih utama hahaha… Akhirnya kita memilih duduk di cafe yang bertemaram lampu remang-remang diatasnya. Laut tak lagi nampak, tapi deru ombak dan belaian angin yang berhembus dari arah pantai masih terasa hangat di pipi. aahh… i will never forget that feeling.

Menu makan malamnya sangat sederhana, tapi tempatnya luar biasa. Minumnya juga cuma milkshake (berharap bisa nyamber minuman meja sebelah hahahha) tapi yang duduk di depan saya sambil bercerita panjang lebar adalah wanita yang sama luar biasanya dengan kota ini. Soon, someday ; i’ll be back, Pangandaran!

How it feels to be a jobless housewife?

Saya adalah wanita yang sebelum menikah adalah seseorang yang sangat aktif. Sekolah sambil bekerja, bekerja sambil main, main pun kadang sampai lupa waktu. Saya jarang di rumah sejak duduk di bangku SMP. hahahhaha…

Setelah menikah, saya memilih untuk diam di rumah : menyiapkan bekal suami ke kantor, menyiapkan pakaiannya, mengantar suami sampai ke pintu di pagi hari, memastikan rumah tetap bersih, memasak untuk makan malam suami dan dengan sangat bahagia menanti suami pulang bekerja seharian. Saya selalu hapal cara dia mengerem kendaraannya di depan pintu pagar, saya bisa menebak kalau itu dia dari suara mesin mobilnya yang dilepas gasnya secara tiba-tiba dan saya selalu bisa menebak kedatangannya dari suara langkah kakinya yang diseret  melewati koridor flat kami yang mungil di Jakarta. Dia selalu pulang tergesa-gesa, tak pernah sabar ingin sampai ke rumah, tak pernah betah di luar.

 

IMG_0184
Menjelang ujian proposal thesis, 2016

Tahun ini adalah tahun ke-enam saya total menjadi jobless housewife, meskipun dalam perjalanannya saya tetap (kadang sih) menghasilkan sedikit uang untuk kami hidup. Saya mencoba segala jenis bisnis, sayangnya karna tidak dijalankan secara konsisten ; bisnis yang saya jalani pun kesannya maju mundur cantik hakhakhak…

Saya lulusan magister ilmu hukum dari sebuah kampus swasta yang cukup ternama di Bandung, tak cumlaude memang tapi saya lulus dengan nilai yang memuaskan. Kelulusan ini menjadi pencapaian tertinggi saya sebagai pelajar di usia yang ke 30 tahun. Udah tua banget ya? hahahaa… Semoga masih diberi rejeki dan kesempatan untuk sekolah lagi. aamiin!

Banyak yang menyayangkan, seorang lulusan S2 seperti saya hanya berakhir di rumah sebagai ibu rumah tangga yang tidak berpenghasilan ; termasuk kedua orang tua saya, dan kedua orang tua suami saya. But how can i say? i really love being a housewife!

Being a jobless housewife for 6 years and still counting!

Saya juga kadang tak percaya, “hah, bisa ya kamu Na diam di rumah?” hahaha… “kamu kan bukan type anak rumahan dari orok bo”. Dulu, jaman masih bau kencur hahaha… saya kekeuh pengen jadi wanita karir beken buahahaha.

 

DSC01561

Laki laki yang menikahi saya tidak lebih keras dari watak saya, tidak lebih galak pula dari saya (ho oh saya galak abis cyn). Tapi entah kenapa saya mau-maunya nurut ketika dia minta saya nunggu dia aja di rumah, tak perlulah saya repot-repot bantuin dia nyari duit. hahahahaha

So far saya senang, saya bahagia dan saya tidak pernah sedikitpun menyeseli keputusan saya untuk total mendampingi suami ; menjadikannya wadah bagi saya untuk memilih pintu surga manapun yang saya inginkan untuk saya ketuk.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.”
(HR Bukhari Muslim)

Saya selalu yakin bahwa Tuhan adalah sebaik-baik penentu kehidupan, Tuhan bekerja dengan sangat sempurna dan tidak pernah salah. Dan saya selalu bersyukur untuk semua ini! once again, i really love being a housewife.

6-Reasons-Why-Youre-Not-Doing-What-Actually-Makes-You-Happy

Untuk ibu ibu yang sama sama berjuang di jalan Allah dari rumah, mari kita sama sama berdoa semoga kita selalu istiqomah merawat rumah tangga kita sampai akhirat, semoga Allah selalu melindungi rumah tangga kita dari orang orang yang berniat jahat. *shakehand*

 

 

Rumah tangga : hasil curhatan istri korban suami selingkuh

Suami selingkuh! *panjang, jangan dibaca*


Ini adalah tulisan random, ga perlu dibaca karna kayaknya bakal panjang banget, ga perlu dikomentari pula kalau dirasa tidak penting hahaha…


Bukan, bukan suami saya yang selingkuh. Tulisan ini muncul akibat banyak curhatan wanita yang suaminya selingkuh. Saya emang udah kayak mama dedeh, yang curhat ke saya kalau ga tukang ojek ya ibu-ibu, kadang juga tukang sayur atau tukang laundry hahahaa…


Suami selingkuh lalu menikah lagi dengan alasan yang sungguh sangat klasik ; visi misi kita tak lagi sama. Laki laki macam ini ADA! *Padahal sebelumnya udah nemu gantinya di luaran. Suami macam ini sebenarnya tidak kreatif menciptakan alasan.


Suami yang kadang jadi imam mesjid lalu memilih menikah tanpa sepengatuhan istrinya, karna tidak ingin menyakiti istrinya, ADA juga. *lalu menjadikan takdir sebagai kambing hitamnya.


Suami yang pendiam, sabar dan tidak nakal ujug ujug selingkuh dengan rekan kerjanya, ADA! *sholeh tidak selalu berbanding lurus dengan setia, camkan itu anak muda!


Suami yang jujur kepada istrinya kalau dia selingkuh, tidur dengan wanita lain ; ADA! *sianida kayaknya cocok nih


Suami yang katanya sibuk cari nafkah di luar, jarang pulang karna fokus menafkahi keluarga tapi selingkuh dengan wanita lain, ADA! *Suami macam kebanyakan makan gula, ngomongnya manis melulu


Suami yang tiap hari pulang, malam tidur di rumah, ternyata di luar menikah dengan wanita lain, ADA! *sejenis amoeba, mampu membelah diri

DIbalik suami yang selingkuh, ada wanita yang lebih memilih mengalah. Mengalah untuk melepaskan atributnya sebagai wanita karir demi mempertahankan pernikahan, mengalah untuk menerima pasangannya kembali, mengalah untuk tetap bertahan di tengah kelakuan suami yang menyakitkan, mengalah dengan cara melepaskan diri dari ikatan pernikahan agar si suami bisa melanjutkan kegilaannya.


ISTRI MENGALAH AGAR SUAMI BISA MENJADI PEMENANG. Yakali suami bisa menang kalau istri ga ngalah?


Tapi di sisi lain pernah ga sih kita berfikir apa yang membuat lelaki berkhianat, mencari wanita lain, selingkuh, menyakiti kita pasangannya… Pernah ga sih sekali saja kita duduk meluangkan waktu untuk merunut setiap kejadian yang kita lewati bareng-bareng? apa kita pernah mencari dimana LACK nya? Noted : kadang selingkuhan suami tidak lebih cantik dari istri di rumah!


IMHO, mungkin lelaki selingkuh karna kita wanita yang terlalu powerful, superior! Setahu saya, lelaki cenderung lebih senang menjadi pemimpin, bukan dipimpin wanita, bukan pula direndahkan oleh wanita, apalagi istrinya. EGO! Yap, lelaki punya ego yang kadang tanpa sadar kita cederai. Separuh lelaki mungkin (ini mungkin loh ya) merasa minder ketika istrinya memiliki penghasilan yang lebih, separuhnya juga mungkin merasa rendah ketika istrinya memiliki jabatan yang lebih tinggi dibanding dirinya.


Saya pun baru menikah kurang dari 6 tahun, masih pengantin baru hehehehe… saya belajar dari mereka, pasangan yang nyaris gagal dan juga yang sudah gagal mempertahankan pernikahan.


Ada yang bilang “jangan suka mengumbar kebaikan suamimu, nanti orang lain minta dinikahi” lalu katanya “si suaminya mau aja karna merasa ada yang naksir dirinya”

lesson learned : bukan masalah kita suka mengumbar kebaikan suami, tapi karna kita jarang memuji suami langsung (mungkin) dan jarang berterima kasih, sehingga baru kali ini si suami merasa “terlihat” dan merasa “eksistensinya diakui” sayangnya oleh orang lain, bukan oleh kita, Istrinya! Memberi pujian dan penghargaan kepada suami memang masalah sepele, tapi perlu diingat suami juga manusia yang ingin diakui kehebatannya, meskipun dia sebenarnya tak bisa disandingkan dengan Fackri #ehhhahahahaa


Suami selingkuh mungkin ingin menunjukkan kepada kita bahwa kita telah lalai. Lalai menjalankan peran sebagai istri. Istri itu memang harus multitalenta, harus bisa dibawa ke arisan setelah seharian mengurusi bawang-bawangan di dapur. Wanita harus seperti Customer Service, menerima semua keluhan dan menyelesaikannya tepat waktu, mencari solusi sambil tetap tersenyum.


Mungkin suami hanya sekedar menunjukkan bahwa “saya selingkuh karna kamu tidak pernah ada di sampingku”.

Suami mungkin ingin merayakan prestasi kecil yang dia dapatkan di kantornya, mungkin dengan duduk ngopi di cafe atau sekedar duduk di bioskop sejenak ketika anak anak sudah tidur lelap, hanya saja kita terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga, parahnya ; iyaa… ini makin parah ketika kita menjalani LDM (long distance marriage) karna masing-masing bekerja di kota yang berbeda. Selamat, karna waktu dan uang memang jarang berjalan beriringan! Kecuali kamu anaknya SBY. hehehehee…


Kadang kita hanya harus meluangkan waktu sedikit untuk mendengarkan cerita suami, karna sesungguhnya lelaki jauh berbeda dengan wanita. Kita, wanita cenderung terbuka kepada siapa saja sedangkan lelaki butuh orang yang tepat untuk membuatnya bercerita. Silahkan dipilih, apakah kalian ingin dipilih suami sebagai wanita yang tepat untuk menjadi tempat berkeluh kesah? atau suami kepincut wanita lain di luar yang ternyata ditemuinya di kantor hanya karna kebetulan bisa mendengarkan dan memberikan solusi kepada suami kita.


Atau, kadang kita juga perlu melakukan analisa kebutuhan, bukan hanya analisa pasar, apalagi analisa politik hahahaha…
Menganalisa kebutuhan suami, saya rasa tidak ada ruginya. Well, lelaki kadang butuh mengenal dirinya dari kita pasangannya. Apakah suami butuh sedikit perhatian, atau hanya sekedar butuh istirahat dari kehidupannya yang melelahkan.


Sekali lagi, saya juga masih belajar. Tulisan ini adalah hasil dari saya merangkum kisah orang orang, menganalisanya, mendiskusikannya bersama suami, memikirkan dan mempelajarinya. (nya nya banyak banget hahahha)
Saya sama sekali tidak menggurui, tidak berniat menyinggung pihak manapun. Saya hanya ingin kita semua sama sama selamat sampai akhir dengan pernikahan yang sakinah mawaddah warrahmah…

Perlu diingat bahwa, potensi selingkuh tidak hanya berlaku bagi lelaki, tapi juga wanita. Hanya saja kebanyakan wanita, masih lebih jauh berfikir waras dibanding lelaki. #eh hhahahaha… yaudalah ya, maaf bapak-bapak, saya mah orangnya takut diserang mamak2!

Persiapan berangkat ke Jepang

Bikin Pasppor

Karna ke Jepang ini adalah perjalanan ke luar negeri pertama kami, maka baru di tahun 2017 lah kami membuat passpor. hahahha… maklum ya duitnya baru cukup sekarang, kemarin-kemarin suka habis sama hal-hal yang tidak berguna.

Nah untuk membuat passpor, kami harus menyiapkan berkas seperti ; KTP yang sudah elektronik, Kartu Keluarga, Buku Nikah dan Akte Kelahiran. oh iya  dan tidak lupa pula, Matrei 6000.

Kami membuat paspornya di Kanim Depok karna ada teman kuliah suami yang bisa memangkas waktu kami yang sangat sempit. Kami berangkat dari Jakarta Barat pukul 6 pagi dan sudah bisa kembali lagi ke Jakarta pukul 12 Siang dalam keadaan semuanya sudah beres. Sisa nunggu Passpornya beres 3 hari kedepan. Total yang kami bayarkan adalah 355rb rupiah per passpor. Kebetulan Kanim Depok belum menyediakan passpor dalam bentuk e-pass, jadinya kita cuma pakai passpor biasa dengan isi 48 lembar. Tak mengapa lah ya, yang penting mah passpor jadi. hehehe…

Perlu diingat, ketika passpor sudah di tangan kita, pastikan untuk menjaganya dengan baik ; tidak boleh hilang, robek atau basah. Apabila hal tersebut terjadi, maka kita harus bikin BAP dan urusannya akan lebih panjang ketika kita akan membuat paspor baru lagi.

Beli Tiket

Sebenarnya kami juga rada-rada bingung ya mau naik pesawat apa dan harus berangkat kapan, karna ini adalah perjalanan pertama kami. Awalnya sih mikirnya nanti berangkatnya pas Spring aja di bulan April, tapi pas liat-liat harga tiket ; kayaknya lebih murah pas winter nih tiketnya. Yasudalah… akhirnya kita issued tiket Cathay Pasific lewat Traveloka untuk bulan February.

Untuk tiketnya sendiri, karna menggunakan maskapai Cathay Pasific, otomatis harus transit dulu di Hongkong. Jadi perjalanan kami memakan waktu lebih lama dibanding menggunakan maskapai yang direct ke Jepang.

Pesawat yang direct ke Jepang sebenarnya banyak, ada ANA, JAL atau Garuda Indonesia ; tapi karna kami agak belum mahir urusan pertravelingan makanya kita issued tiket seadanya saja. Tiket ekonomi Cathay Pasific waktu itu harganya 4,9jt PP/orang sedangkan di waktu yang sama tiket ANA malah lebih murah sekitar 3,8jt PP/orang, hanya saja tiket ANA ini waktunya tidak ada yang cocok dengan jadwal libur suami. Jadilah kita berangkat dengan Cathay Pasific.

Bikin Itinerary

Itinerary ini penting, berhubung kami berangkat mandiri alias tanpa tour guide. Jauh jauh hari saya sudah googling segala macam jenis transportasi dan apa saja yang sebaiknya tidak kami lewatkan selama di Jepang.

Itinerary ini juga dibutuhkan loh pada saat pengajuan visa, tapi ada baiknya pada saat ngajuin visa itinerarty kita cukup berputar-putar di satu prefecture aja supaya visanya lebih mudah untuk diapprove heheheheh

Untuk mendapatkan informasi yang lengkan dan akurat, saya join di salah satu group travelling di FB. Selain itu saya juga rajin ngegoogling pengalaman-pengalaman orang yang pernah berkunjung ke Jepang. Daaaaannn… saya selalu pantengin link ini dan  ini

Bikin Visa

Yeay, Passpor sudah oke, Tiket udah issued… sekarang waktunya bikin Visa. Bulan Februari kemarin Kedutaan Jepang di Jakarta masih menerima proses pembuatan visa, nah untuk saat ini, pembuatan Visa Jepang dialihkan ke VFS Global di Kuningan City. Berhubung Paspor saya buka e-passpor jadi saya harus mengajukan visa reguler yang syaratnya harus menyetorkan slip tabungan suami selama 3 bulan yang saldonya minimal 50juta untuk dua pemohon visa. Saya juga kurang paham sih sebenarnya, apakah nominal ini ada standarnya ataukah hanya formalitas belaka ya? intinya nominal isi tabungan ada pengaruhnya dalam proses approval visa kita. Banyak yang bilang sih, jumlah tabungan harus sesuai dengan biaya hidup per hari kita disana. Misalkan kita mau berkunjung selama 10 hari, maka jumlah tabungan per orang minimal harus 15jt rupiah dengan estimasi biaya hidup sehari adalah 1,5jt rupiah.

Setelah mengantri dan menyetorkan semua berkas dan passpor, saya diberi slip pengambilan yang dituliskan bahwa saya boleh datang kembali 3 hari kemudian mulai dari pukul 13:00 dan pembayarannya nanti dilakukan pada saat visa sudah approved.

3 hari kemudian, waktu itu hari Kamis, saya datang kembali ke Kedutaan Jepang dengan sedikit deg-degan takut visanya ditolak hahaha… untuk biaya visa waktu itu kalau ga salah masih 220rb/orang (alhamdulillah masih murah hahaha). Tapi untuk pengajuan yang sekarang di VFS Global kayaknya dikenakan biaya administrasi sebanyak 150rb. Well itu untuk visa Paspor biasa ya, kalau e-passpor bebas biaya visa kecuali diharuskan bayar biaya administrasi di VFS Global.

 

Booking penginapan di air bnb

Di Osaka, kami nginap di apartemen salah satu teman saya yang sudah menetap di Jepang selama hampir 8 tahun. Kami hanya memesan airbnb untuk menginap 3 hari 2 malam di Tokyo. Kenapa air bnb? selain sedikit lumayan affordable, kami juga ingin merasakan living like a local secara mandiri. Mengurus rumah sendiri dsb.

Kami sama sekali tidak ketemu sama yang punya apartemen, pemiliknya hanya menuntun kami lewat messanger airbnb. Tentang letak, jalur kereta dan cara membuka pintunya. hehhee… sedikit ribet sih memang, tapi kami malah lebih menikmati berkelana seperti ini dibanding harus dilayani dan diantar ke kamar layaknya pengunjung hotel.

Kami hanya membayar sekitar 750ribu untuk 3 hari 2 malam di Tokyo, dengan toilet yang menurut saya sangat Indonesiawi hahahha… pasalnya di Jepang, closetnya kadang cuma disediakan tissue tanpa air bilas. Jadi berasa surga banget kalau nemu toilet yang closetnya ada airnya wkwkwkkw…

Selain Closet, kamar kami disediakan dapur mini dan alat masak (tapi ini ga pernah kami gunakan), disediakan wi fi router juga, tv, futon untuk kasur tidur tambahan dan tentunya satu kasur ukuran sedang yang sudah dialasi dipan. Nah yang paling utama ketika berlibur dikala winter adalah pastikan kamar yang kita sewa memiliki heater, karna untuk manusia tropis macam saya yang juga kadang-kadang maag nya kambuh, saya paling ga tahan udara yang terlalu dingin.

Beli tiket-tiketan yang akan digunakan selama di Jepang

Tiket yang saya sediakan sebelum berangkat adalah tiket bus dari Osaka ke Tokyo PP!

Demi meminimalisir biaya transportasi dan penginapan, kami tidak menggunakan JR Pass selama di Jepang. Kami memnggunakan bis malam yang berangkat dari Osaka pukul 11 malam dan tiba di Tokyo pukul 7.30 pagi. hahaha… lumayan menghemat biaya penginapan untuk 1 malam kan? begitu pun ketika kembali ke Osaka. Saya dan suami berangkat dari Tokyo pukul 09.00 malam dan tiba di Osaka pukul 6.00 pagi.

Bus yang kami gunakan adalah Sakura Bus, yang waktu itu biayanya hanya 2.300 yen per orang dari Osaka menuju Tokyo. Sayangnya ketika kembali ke Osaka, harga tiket busnya melonjak dua kali lipat, eh malah lebih… sekitar 5.600 yen. huaaa….

Tiket yang selanjutnya saya beli adalah Kansai Thru Pass senilai 4.000 yen/orang dan Tokyo Wide Pass senilai 10.000yen/orang

Sewa Wifi Router

Wi fi router ini kami gunakan hanya ketika kami di Osaka selama 4 hari. Biaya per harinya sekitar 450yen dan kebetulan dipesenin sama teman yang tinggal di Osaka. Penggunaan wifi router ini bagi kami sangat tidak efektif, karna selain membutuhkan daya yang lumayan banyak untuk mengisi routernya tiap saat, kami juga tidak bisa berjauh-jauhan supaya tetap dalam jangkauan wifi router tersebut.

Mungkin ada baiknya, kita menggunakan provider dari Indonesia yang sudah berkerja sama dengan provider di Jepang seperti Telkomsel yang sudah teintegrasi dengan Docomo. Dulu sih masih ada XL Pass, tapi entah kenapa ; XL Pass sekarang sudah tidak bisa digunakan di Jepang.

Download aplikasi Hyperdia

Nah selain menggunakan Google Maps, kami juga mnggunakan Hyperdia untuk mengetahui jadwal keberangkatan dan jalur kereta di Jepang. Awalnya sempat ga yakin bakal bisa menjelajah Jepang tanpa guide, tapi ternyata jalur kereta di Jepang bagi kami tidaklah begitu rumit. Sempat nyasar juga sih sekali-sekali, tapi it was fun and fine kok.

Saran saya untuk yang akan ke Jepang, aplikasi ini sangat membantu loh… daripada harus sewa guide mahal mahal sih ya? ehhehehheh

Beli perlengkapan winter

Orang tropis ke negara yang bersalju… huaaa… hahahhaa… suka rada-rada udik emang ya. Saya sih pertama kali ketemu salju, kayak yang pengen makan aja semua salju yang jatuh ke lapang wkwkwkkw… sisa nambahin sirop sama peyeum itu mah hahaha.

Sebelum berangkat, saya beli sepatu boot dulu meskipun nyampe sana ga tahan juga ga beli boot lagi hahaha. Di Jepang suka banyak yang sale kalau lagi winter, sepatu boot yang saya beli di Jepang harganya hanya sekitar 2800 yen ; jauh lebih murah ketimbang harus beli di Indonesia. Selain sepatu boot, saya beli jaket winter, kaos kaki, syal dan kaos tangan. Kemarin sih beli kaos tangannya di sini, tapi pas di belanja di Namba ; kaos tangannya hilang, jadinya beli lagi sebelum berangkat ke Kobe.

Olahraga

Sebelum berangkat, saya pastikan dulu kami berdua dalam kondisi sehat wal afiat. Rugi dong udah beli tiket mahal-mahal, eh pas berangkat malah sakit. Perjalanan ini juga adalah perjalanan panjang pertama kami, jadi otomatis persiapan fisiknya emang total kami siapkan. Belum lagi perubahan cuaca yang ekstrim dari yang panas ke dingin… biasanya di Jakarta suhunya 30 dercel keatas, kali ini harus beradaptasi dengan cuaca 5 atau bahkan minus dercel.

Olahraganya sih ga rutin hahaha, tapi minimal jalan kaki dan workout yang ringan-ringan udah lumayan sangat membantu fisik kami selama di Jepang.

Beli obat-obatan dan vitamin

Saya adalah type wanita yang concern banget sama kesehatan keluarga beda tipis sama irit ga mau ngabisin duitnya buat ke dokter. Jadi sebelum berangkat saya sudah siapin obat-obatan dasar seperti anti nyeri, obat batuk, perlengkapan luka, minyak kayu putih, pelembab bibir dan vitamin-vitamin lainnya seperti imboost force dan vitamin C.

Karna agak phobia naik pesawat, saya juga sediain antimo supaya saya bisa tidur pulas selama terbang berjam-jam hahahha… maklum biasanya cuma terbang paling lama 2 jam.

 

Mungkin itu aja ya kayaknya, kalau ada yang kurang lengkap, bisa tinggalkan komen di bawah, saya akan senang hati menjawab hehehehe…

Being Nomadic

Beberapa hari yang lalu, saya sempat bertanya ke suami ;

“yah, how it feels being nomadic?”

Yap, setelah menikah kami hidup berpindah-pindah. Kalau mau diingat-ingat, kami tidak pernah menetap di suatu tempat lebih dari dua tahun. Entah itu pindah rumah, pindah kantor atau pindah kota. As a beautiful jobless housewife (halah) saya ikut kemana pun suami pergi.

Sebelum menikah, saya pernah mendaftar di sebuah kampus swasta di Makassar untuk lanjut kuliah lagi. Entah kenapa saya hampir tidak pernah lolos dan lulus di kampus manapun itu di Makassar. Suami pun demikian, tidak pernah mujur memperoleh pekerjaan di kota kami dibesaarkan. Ditolak mentah-mentah oleh kota yang bagi kami sangat angkuh itu, justru melempar kami ke kota besar yang hampir semua orang menjadikan kota tersebut sebagai kota yang wajib dikunjungi di Indonesia, Bandung! And I Thank God for that… Alhamdulillah, Allah tidak pernah mengizinkan saya untuk tinggal di Makassar, tapi di kota yang jauh lebih bagus.

10 hari setelah menikah di tahun 2012, kami pindah ke Bandung. Menetap dan terdaftar secara legal sebagai penduduk Bandung. Berpindah dari kosan, ke kontrakan lalu ke rumah sendiri yang berhasil kami cicil di usia pernikahan kami kurang dari 2 tahun. Lalu pindah ke Jakarta di awal tahun 2016 dan sebentar lagi kami akan berpindah lagi ke kota sebelah ; Tangerang! hihiihihihiih…. That’s awesome, well… for me!

Saya tidak ingat berapa kali kami mengangkut barang karna berpindah hunian, tapi rasanya… memulai hal baru hampir setiap tahun sudah menjadi hal yang menyenangkan bagi kami. yaa…at least there’ll always a new things, every year.

Awalnya saya selalu berfikir “Anna, kamu jadiin diri kamu percobaan?” tapi seiring waktu berjalan… i think it’s fine, at least i try. I’ll never know how it feels, if i’m not trying.  Dan lalu… at the end, i said to my self “well, nice try Anna”

Saya selalu bersyukur untuk semua yang telah saya dapatkan sejauh ini, tapi saya jauh lebih bersyukur dengan apa yang tidak dan mungkin belum saya miliki.

Saya pernah bertemu mantan (ecieee) beberapa tahun yang lalu, and i just told him “i thank God, for giving me a kindhearted husband dan lebih bersyukur lagi karna dia bukan kamu”

Bersyukur untuk hal yang tidak dan belum saya miliki…

 

25036354_134528837240372_8901639442620481536_n
Langit Jakarta